Cek Prospek & Rekomendasi Saham Emiten LQ45 Usai Rilis Kinerja Semester I-2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Musim publikasi laporan keuangan semester I-2026 menunjukkan mayoritas emiten yang tergabung dalam indeks LQ45 masih mampu membukukan kinerja yang positif. 

Hingga awal Agustus 2026, sebanyak 29 emiten anggota LQ45 telah merilis laporan keuangan.

Dari jumlah tersebut, sebagian besar berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan maupun laba bersih. Meski demikian, masih terdapat enam emiten yang membukukan penurunan laba bersih dibandingkan periode yang sama tahun lalu.


Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, mengatakan kinerja emiten LQ45 masih cenderung beragam (mixed), sehingga belum dapat disimpulkan bahwa mayoritas perusahaan telah membukukan hasil di atas ekspektasi pasar.

Liza bilang emiten dari sektor perbankan relatif solid, terutama BMRI yang mencatat pertumbuhan laba 24,4% YoY, sementara BBCA tetap stabil dengan kualitas aset yang terjaga.

Baca Juga: Laba INDF dan ICBP Kompak Turun di Semester I-2026, Tekanan Berpotensi Berlanjut

Sebaliknya, laba ICBP turun 33% akibat rugi kurs dan UNTR tertekan faktor operasional serta beban non-recurring. 

Liza juga cenderung untuk mencermati kinerja BMRI dan BBCA. Pasalnya, BMRI memiliki pertumbuhan kredit dan laba yang kuat serta valuasinya masih murah, sedangkan BBCA tetap menjadi pilihan defensif berkat CASA yang tinggi, kualitas aset terjaga, dan kredit yang untuk pertama kalinya menembus Rp 1.000 triliun.

"Prospek saham LQ45 secara keseluruhan masih positif, tetapi penguatannya kemungkinan selektif dan tidak merata," kata Liza kepada Kontan, Senin (3/8/2026).

Saham dengan pertumbuhan laba nyata, neraca kuat, likuiditas tinggi, serta eksposur minimum terhadap pelemahan rupiah akan lebih diminati. Sementara risiko utama tetap berasal dari ketidakpastian global, tekanan margin, dan konsistensi arus dana asing.

Disisi lain, Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih berpandangan dinamika perekonomian domestik pada kuartal II-2026 membawa tantangan bagi emiten termasuk dalam indeks LQ45. 

Baca Juga: Laba Mayoritas Emiten Grup Barito Tertekan, Bagaimana Prospek pada Semester II-2026?

Pengetatan kebijakan moneter yang agresif melalui kenaikan suku bunga acuan sebesar 100 bps pada periode Mei-Juni 2026 ke level 5,75% dilakukan untuk menahan laju depresiasi Rupiah, namun di sisi lain mentransmisikan tekanan ke sektor riil. Kondisi ini tercermin dari Indeks PMI Manufaktur Juni 2026 yang merosot ke level kontraksi 46,9 posisi terendah sejak April 2025 di level 46,7. 

Kombinasi melambatnya aktivitas industri, pelemahan nilai tukar, dan tingginya biaya modal (cost of capital), emiten tetap dituntut untuk menghasilkan laba yang konsisten. 

"Alasan tersebut membuat kami lebih konservatif (low expectation) terhadap kinerja keuangan emiten pada kuartal II-2026," ucap Ratih.

Disamping itu, Ratih menerangkan sektor perbankan termasuk bank besar, mengalami tekanan pada marjin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) akibat penyesuaian suku bunga kredit (loan yield pressure) serta lonjakan biaya dana (Cost of Funds). 

Persaingan ketat dalam menjaga loyalitas nasabah korporasi memaksa perbankan memberikan penawaran suku bunga yang kompetitif, ditambah kewajiban penyaluran kredit ke program prioritas.  

Di sisi lain, emiten sektor konsumsi primer juga tergerus marginnya akibat depresiasi rupiah yang mengerek biaya bahan baku impor serta penurunan daya beli masyarakat.

Baca Juga: Ekspansi Data Center Diproyeksi Jadi Penopang Kinerja Telkom (TLKM) hingga Akhir 2026

Hal ini terlihat pada penurunan Gross Profit Margin (GPM) UNVR yang menyusut ke level 44,9% pada kuartal II-2026, dibandingkan 48,6% pada kuartal II-2025 dan 48,2% pada kuartal I-2026.

Selain, itu sektor otomotif juga berpotensi tertekan di tengah iklim suku bunga tinggi dan kenaikan biaya input. Terlihat dari laba bersih ASII di kuartal II-2026 mencapai Rp6,7 triliun menurun 22,14% yoy. 

Di tengah kondisi sulit tersebut, sektor pertambangan logam seperti nikel justru mencatatkan kinerja unggul berkat struktur biaya yang efisien, efek basis kinerja yang rendah (low-base effect) pada tahun sebelumnya, hingga apresiasi harga jual (ASP).