Cek Rekomendasi Saham 9 Emiten Yang Masuk Daftar Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kabar buruk bagi investor pasar saham datang setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis sembilan saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi per Maret 2026.

Yakni,  PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY), PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), dan PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS). Selain itu ada PT Ifishdeco Tbk (IFSH), PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) dan PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK).

Selanjutnya, PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), serta PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Tingkat kepemilikan pada saham tersebut bahkan mencapai di atas 95%.


Pengamat Pasar Modal & Co-Founder Pasar Dana Hans Kwee menjelaskan, kehadiran saham terkonsentrasi tinggi merupakan hal yang positif karena bisa menjadi sinyal awal bagi investor dalam mengambil keputusan investasi. 

Baca Juga: Siap-Siap! Bobot Saham Indonesia di MSCI Terancam Dipangkas

“Ada potensi kesembilan saham tersebut terkoreksi, tetapi karena high shareholding concentration seharusnya penurunan harga bisa terbatas,” jelasnya kepada Kontan, Minggu (5/4/2026). 

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas menambahkan, saham dengan fundamental kuat masih memiliki daya tahan di tengah kondisi ini. Namun investor tetap perlu mencermati level teknikal dan risiko penurunan harga. 

Menurutnya status kepemilikan saham terkonsentrasi berpotensi meredam sentimen positif seperti aksi korporasi. Salah satunya seperti rencana stock split yang biasanya mendorong likuiditas.

“Status ini bisa mengerem euforia stock split karena likuiditas belum tentu langsung meningkat,” kata Nafan.

Menurutnya, saham dengan kapitalisasi kecil dan likuiditas rendah lebih rentan mengalami tekanan harga. Pergerakan saham juga cenderung terbatas dan berisiko mengalami tren penurunan.

“Beberapa saham berpotensi turun karena likuiditas rendah dan minat pasar terbatas,” jelas Nafa.

Potensi Pemangkasan Bobot Indeks Global

Pjs. Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik, menjelaskan ada kemungkinan saham yang sudah masuk dalam indeks global akan dikeluarkan atau diturunkan bobotnya usai transparansi yang dilakukan.

“Jadi bisa saja ada potensi, misalnya potensi penurunan bobot untuk saham-saham Indonesia, baik dari hasil analisis granularity maupun high shareholding concentration,” katanya belum lama ini. 

Namun Jeffrey meyakini dalam jangka panjang akan baik bagi pasar saham Indonesia dan akan membuat bobot saham-saham Indonesia akan menjadi jauh lebih tinggi di masa mendatang. 

Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham Pilihan Hari Ini (6/4), IHSG Diproyeksi Melemah

“Tentu pasar akan punya mekanisme untuk melihat dan pasar selalu forward looking. Kalau pasar meyakini dalam jangka panjang ini suatu yang baik, saya kira pasar akan respon positif,” tuturnya. 

Dia bilang, terlepas dari potensi penurunan bobot, bisa saja pasar akan bereaksi positif. Jeffrey menegaskan apa yang dilakukan BEI bersama OJK ini bukan membuat pasar naik atau turun. 

Berdasarkan catatan IPO Platinum Club, saham yang berada dalam indeks MSCI dan masuk dalam daftar high shareholding concentration berpotensi langsung dikeluarkan oleh MSCI dari indeks dan tidak bisa lagi masuk dalam waktu 12 bulan. 

“Bagi saham baru yang masuk ke dalam high shareholding concentration akan dipastikan tidak bisa masuk ke dalam indeks MSCI,” tulis tim analis IPO Platinum Club dalam catatan yang dirilis Kamis (2/4/2026). 

Nafan menambahkan, secara teknikal beberapa saham masih berada dalam tren turun atau konsolidasi. Investor disarankan lebih berhati-hati dalam mengambil posisi pada saham tersebut.

 
DSSA Chart by TradingView

Dari kesembilan saham itu, Nafan rekomendasikan hold DSSA dengan target harga Rp 72.800. Kemudian hold BREN dan RCLO dengan masing-masing target harga di Rp 4.640 dan Rp 5.050 per saham.  

Sementara, Hans menyarankan bagi investor yang memiliki saham yang masuk dalam daftar HSC bisa melakukan aksi penjualan ketika kondisi pasar saham Indonesia sudah lebih stabil. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News