Cek Rekomendasi Saham Alamtri Minerals (ADMR) Setelah Ekspor Aluminium



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) makin gencar dalam melakukan transformasi bisnis setelah mencatat ekspor perdana aluminium primer melalui anak usaha, PT Kalimantan Aluminium Industry, pada Juni 2026. Langkah ini dinilai menjadi katalis penting bagi prospek jangka menengah perseroan.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan, ekspor perdana tersebut bukan sekadar diversifikasi pendapatan, tetapi mencerminkan perubahan profil bisnis ADMR ke arah hilirisasi bernilai tambah.

“Ini adalah transformasi dari pure commodities play menjadi value-added downstream player. Dalam jangka panjang, ini berpotensi menjadi katalis rerating yang belum sepenuhnya tercermin di harga saham,” ujarnya kepada Kontan, Senin (13/7/2026).


Dari sisi pasar, momentum ekspor dinilai cukup tepat di tengah gangguan pasokan aluminium global, khususnya di Amerika Serikat. Kondisi ini membuka peluang tambahan margin, meski dalam tahap awal ADMR dinilai belum memiliki daya tawar harga setinggi pemain global yang sudah mapan.

Baca Juga: Market Cap BEI Terkini: BBCA Kembali Jadi Jawara, DCII Salip BREN

“Premium harga kemungkinan masih di bawah level jangka panjang karena ADMR masih pemain baru,” tambah Wafi.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan menjelaskan, ekspor ini juga menjadi validasi bahwa proyek hilirisasi aluminium ADMR mulai memasuki tahap komersialisasi dan terintegrasi dalam rantai pasok global.

Menurutnya, peluang margin tetap terbuka seiring harga aluminium global dan premi fisik yang masih relatif tinggi akibat keterbatasan pasokan.

Meski begitu, kontribusi aluminium terhadap kinerja tahun ini diperkirakan masih bertahap. Target penjualan 350.000 ton pada 2026 dinilai cukup ambisius, mengingat ekspor baru dimulai pada pertengahan tahun.

“Batubara metalurgi masih menjadi kontributor utama pada 2026, sementara aluminium akan menjadi sumber pertumbuhan tambahan yang lebih optimal pada 2027,” kata Wafi.

Ekky menambahkan, apabila proses ramp-up berjalan lancar, segmen aluminium berpotensi menjadi katalis utama dalam jangka menengah, mengingat kapasitas fase pertama smelter mencapai sekitar 500.000 ton per tahun.

Namun, ekspansi ke bisnis aluminium juga tidak lepas dari sejumlah risiko. Wafi menggarisbawahi empat faktor utama, yakni risiko eksekusi pada fase ramp-up, volatilitas tarif ekspor ke AS, biaya energi smelter, serta fluktuasi harga aluminium global.

Sementara itu, Ekky menyoroti risiko harga komoditas, biaya produksi yang sangat bergantung pada energi, serta tantangan teknis dalam proses commissioning dan peningkatan kapasitas.

 
ADMR Chart by TradingView

Dari sisi prospek, analis cenderung melihat kinerja ADMR hingga akhir 2026 tetap positif dengan pendekatan hati-hati. Batubara metalurgi masih menjadi fondasi utama, sementara aluminium menjadi katalis tambahan.

“Ini lebih merupakan cerita 12 bulan-18 bulan ke depan, bukan katalis jangka pendek,” jelas Wafi.

Adapun dari sisi rekomendasi, Ekky menilai saham ADMR masih menarik dengan strategi trading buy hingga buy on weakness. Area Rp 1.450-Rp 1.500 dinilai sebagai level akumulasi, dengan potensi penguatan ke Rp 1.650-Rp 1.680 dalam jangka pendek.

Untuk jangka lebih panjang, jika momentum fundamental aluminium semakin kuat, saham ADMR berpeluang menuju kisaran Rp 1.900-Rp 2.000 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News