Celaka, hingga November ekspor kakao akan tetap memble



JAKARTA. Para petani kakao di Sulawesi nampaknya harus gigit jari. Pasalnya cuaca buruk yang melanda wilayah ini membuat produksi kakao di Sulawesi turun drastis. Akibatnya, ekspor kakao Sulawesi untuk bulan Agustus lalu merosot tajam.Berdasarkan data Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo), ekspor kakao dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah selama Agustus 2010 hanya sebesar 36.168 ton. Jumlah ini melorot 21% ketimbang sebulan sebelumnya yang sebesar 45.552 ton.Padahal, pada Agustus tahun 2009 lalu, jumlah ekspor kakao asal Sulawesi bahkan mencapai 47.527 ton atau 75% dari total ekspor kakao Indonesia.Penurunan ekspor kakao ini merupakan penurunan pertama selama empat bulan terakhir. Tingginya curah hujan dan gangguan transprotasi menjadi penyebab utama melorotnya ekspor kakao ini. Sekretaris Jenderal Askindo Zulhefi Sikumbang berpendapat, penurunan ekspor kakao ini masih akan belangsung hingga November mendatang. Pasalnya, curah hujan yang tinggi membuat kualitas panenan kakao si Sulawesi sangat jelek. "Buruknya kualitas kakao ini membuat kakao kita tidak masuk standar ekspor," kata Zulhefi.Zulhefi memperkirakan, akibat curah hujan tinggi, kualitas buah kakao menurun. Biji yang dihasilkan menjadi lebih kecil dan kotorannya lebih banyak."Kualitas kotoran di biji kakao menjadi sekitar 8% - 12%, padahal standar ekspor itu kadar kotorannya sekitar 2,5%," jelas Zulhefi. Curah hujan yang tinggi juga membikin kadar jamur meningkat, rata-rata sekitar 6% -8%; padahal standarnya hanya 3%.Dalam hitungan Zulhefi ekspor kakao hingga akhir tahun ini bisa melorot hingga 40%. Meski begitu, ia bilang penurunan ekspor kakao asal Sulawesi ini tidak akan banyak mempengaruhi harga kakao dunia. "Pengaruh kita ke harga dunia hanya sekitar 12%," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: