KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) berisiko tak banyak menarik minat investor karena biaya teknologi yang tinggi serta kompleksitas pengelolaan sampah di Indonesia. Direktur Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menjelaskan, biaya pembangunan PLTSa bisa mencapai US$ 5 juta–US$ 13 juta per megawatt, tergantung lokasi dan faktor tambahan lainnya. Angka ini jauh lebih mahal dibandingkan teknologi energi terbarukan lain seperti panel surya atau mikrohidro. “Belum lagi, tidak semua sampah bisa diolah menjadi energi. Harus ada pemilahan sejak dari rumah tangga. Kalau sampah bercampur dengan limbah berbahaya, justru biaya pengelolaan jadi lebih mahal. Biaya terbesar ada di proses pemilahan dan tipping fee, yaitu biaya pemungutan sampah dari rumah tangga sampai ke pembangkit,” ujar Bhima kepada Kontan, Kamis (4/9/2025).
Celios: PLTSa Kurang Menarik bagi Investor
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) berisiko tak banyak menarik minat investor karena biaya teknologi yang tinggi serta kompleksitas pengelolaan sampah di Indonesia. Direktur Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menjelaskan, biaya pembangunan PLTSa bisa mencapai US$ 5 juta–US$ 13 juta per megawatt, tergantung lokasi dan faktor tambahan lainnya. Angka ini jauh lebih mahal dibandingkan teknologi energi terbarukan lain seperti panel surya atau mikrohidro. “Belum lagi, tidak semua sampah bisa diolah menjadi energi. Harus ada pemilahan sejak dari rumah tangga. Kalau sampah bercampur dengan limbah berbahaya, justru biaya pengelolaan jadi lebih mahal. Biaya terbesar ada di proses pemilahan dan tipping fee, yaitu biaya pemungutan sampah dari rumah tangga sampai ke pembangkit,” ujar Bhima kepada Kontan, Kamis (4/9/2025).
TAG: