Central Omega (DKFT) Melirik Pengembangan Bahan Baku Baterai Kendaraan Listrik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) melirik peluang pasar bahan baku baterai kendaraan listrik. DKFT sedang mengkaji opsi pengembangan fasilitas pemurnian/smelter hidrometalurgi untuk mengolah bijih nikel kadar rendah atau limonit. 

Direktur DKFT Andi Jaya mengatakan, DKFT telah mendapat mitra strategis atau investor untuk mengkaji rencana kerja sama pengembangan smelter hidrometalurgi. Saat ini, DKFT dan mitra tengah mengurus perizinan untuk mengirim sampel bijih nikel guna melakukan uji sampel di luar negeri dan melihat kecocokan karakteristik bijih nikel Indonesia dengan jenis teknologi hidrometalurgi yang hendak dikembangkan. Nama mitranya tidak diungkapkan, sebab DKFT masih terikat perjanjian kerahasiaan.

“Kalau sudah bisa dipastikan cocok, cocok dari sisi spesifikasi nikel ore atau bijih nikel yang dimiliki oleh Indonesia ini cocok untuk memakai teknologi ini, maka kurang lebih kita akan selesaikan studi kelayakan dan lain-lain dalam waktu estimasi kurang lebih satu tahun ke depan,” ungkap Andi dalam paparan publik, Rabu (28/6).


DKFT telah membangun fasilitas pemurnian bijih nikel kadar tinggi atau saprolit (smelter) di Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah lewat entitas anak usaha. Langkah ekspansi tahap I tersebut telah membuahkan smelter Feronikel (FeNi) dengan kapasitas produksi 100 ribu ton feronikel per tahun.

Baca Juga: Central Omega Resources (DKFT) Kejar Kenaikan Volume Penjualan Bijih Nikel pada 2023

Mulanya, DKFT hendak melakukan ekspansi proyek smelter tahap II yang juga berlokasi di Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, dan memiliki kapasitas produksi lebih besar, sehingga total kapasitas smelter feronikel Perseroan akan meningkat menjadi 300.000 ton per tahun.

Hanya saja, rencana peningkatan kapasitas pengolahan saprolit lebih lanjut diurungkan setelah menimbang perkembangan kondisi industri dan pasar nikel belakangan ini: adanya rencana kebijakan moratorium pembangunan smelter feronikel/NPI seturut cadangan saprolit yang semakin menipis, serta tren permintaan pasar yang lebih condong menyerap turunan-turunan bijih nikel yang dapat dipergunakan sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik.

“Saat ini industri untuk mendukung EV sedang naik-naiknya. Oleh karena itulah perseroan memilih ini (ketimbang peningkatan kapasitas produksi smelter feronikel/NPI),” tutur Andi.

Baca Juga: Central Omega Resources (DKFT) Nihil Pendapatan di Kuartal I-2023, Ini Alasannya

Kalau tidak ada  aral melintang, DKFT berkeinginan mengembangkan smelter hidrometalurgi untuk mengolah limonit menjadi produk antara berupa Mixed Nickel-Cobalt Hydroxide Precipitate (MHP). Jika diolah lebih lanjut, MHP bisa diproses menjadi Nikel sulfat dan Kobalt Sulfat yang bisa diolah lagi menjadi prekursor baterai.

Belum ketahuan teknologi hidrometalurgi seperti apa yang hendak dikembangkan oleh DKFT bersama mitra. Yang terang, Andi memastikan bahwa DKFT tidak berencana mengembangkan smelter hidrometalurgi dengan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL).

Masalah kebutuhan investasi yang besar serta isu lingkungan dalam pengembangan smelter HPAL menjadi alasan dalam pertimbangan tersebut.

“Selain capex (capital expenditure)-nya tinggi sekali, kedua kendalanya adalah di isu lingkungan. Karena tailing-nya itu yang sering dipermasalahkan masih mengandung toksik. Oleh karena itu perusahaan menghindari teknologi ini,” kata Andi. Dia mengatakan, DKFT akan memilih teknologi yang lebih ramah lingkungan.

Baca Juga: Central Omega (DKFT) Mengambil Alih Saham Perusahaan Smelter Nikel dari Anak Usaha

Sejalan dengan rencana pengembangan smelter hidrometalurgi, manajemen DKFT membuka opsi melakukan aksi korporasi untuk menghimpun pendanaan eksternal lewat skema rights issue apabila diperlukan di masa mendatang.

Karena, DKFT akan memerlukan dana yang besar untuk pengembangan tahan kedua. Tetapi Central Omega belum menentukan besaran aksi korporasi ini.

"Jadi nanti kemungkinannya akan ada aksi korporasi meskipun kami belum bisa umumkan sekarang, karena kami masih dalam tahap untuk menentukan teknologi yang dirasa paling tepat,” kata Direktur DKFT, Feni Silviani Budiman di sesi tanya jawab paparan publik.

Mengintip laporan keuangan interim perusahaan, kas dan setara kas DKFT berada pada posisi Rp 301,09 miliar per 31 Maret 2023. Jumlah tersebut turun 21,10% dibanding posisi posisi akhir 2022 yang sebesar Rp 381,64 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati