Central Omega (DKFT) Siap Ajukan Revisi RKAB untuk Tambah Kuota Produksi Bijih Nikel



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) bersiap mengajukan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). DKFT akan meminta tambahan kuota produksi bijih nikel untuk semester II-2026.

Direktur Central Omega Resources, Andi Jaya mengungkapkan bahwa kuota produksi yang diperoleh DKFT dalam RKAB 2026 mengalami penurunan sekitar 35% dibandingkan tahun lalu. Sebagai gambaran, realisasi volume produksi bijih nikel DKFT pada tahun 2025 tercatat sebesar 2,92 juta ton.

Dengan adanya pengurangan kuota produksi, DKFT pun melakukan penyesuaian target penjualan bijih nikel menjadi 1,9 juta ton. Lebih rendah dibandingkan volume penjualan bijih nikel DKFT tahun 2025, yang kala itu mencapai 3,02 juta ton. 


Baca Juga: Strategi Bukaka Teknik Utama (BUKK) Meraih Penjualan Rp 4,1 Triliun pada 2026

Guna mengoptimalkan kapasitas produksi dan menjaga performa penjualan, DKFT akan mengajukan tambahan kuota. Adapun, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM membuka kesempatan bagi perusahaan tambang untuk mengajukan revisi RKAB pada bulan Juli 2026.

Andi belum merinci tambahan kuota produksi yang akan diajukan oleh DKFT. Dia hanya memberikan gambaran bahwa pada tahun ini DKFT ingin mengoptimalkan produksi bijih nikel mendekati level 4 juta ton.

"Kami berencana untuk mengajukan revisi RKAB pada bulan Juli mendatang, dengan target kuota produksi tetap dioptimalkan kembali menuju angka 4 juta ton," kata Andi saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (18/6/2026).

Andi belum membuka berapa sisa kuota produksi yang masih dimiliki oleh DKFT hingga saat ini. Dia hanya memastikan bahwa operasional penambangan bijih nikel DKFT masih terus berjalan sesuai dengan kuota yang diberikan. "Kami masih aman," imbuh Andi.

Hingga kuartal I-2026, realisasi produksi bijih nikel DKFT tercatat sebesar 554.376 ton, atau turun 44,37% dibandingkan produksi 996.598 ton pada periode yang sama tahun lalu. Sedangkan volume penjualan bijih nikel DKFT merosot 19,01% secara tahunan dari 932.014 menjadi 754.860 pada kuartal I-2026.

Meski begitu, DKFT mampu mendongkrak pendapatan dan laba bersih. Penjualan DKFT meningkat 20,20% secara year on year (yoy) dari Rp 420,96 miliar menjadi Rp 506,01 miliar . Sementara laba bersih tumbuh 72,97% dari Rp 137,85 miliar menjadi Rp 238,45 miliar hingga Maret 2026.

Pertumbuhan kinerja keuangan DKFT sejalan dengan harga jual rata-rata yang mengalami kenaikan sekitar 43% yoy pada kuartal I-2026.  "Pertumbuhan positif pada kuartal I-2026 dipicu oleh strategi optimalisasi momentum pasar dan pergeseran bauran penjualan (sales mix) produk kami," terang Andi.

Baca Juga: Kebutuhan Talenta Meningkat, Korporasi Memperluas Program Beasiswa di 2026

Pada tahun ini, DKFT memproyeksikan bisa mengantongi pendapatan sekitar Rp 1,6 triliun dan meraih laba bersih sebesar Rp 628,9 miliar. "Kami akan terus memantau pergerakan pasar dan dinamika regulasi guna memastikan strategi operasional perusahaan tetap adaptif dan mampu menjaga target profitabilitas tersebut," tandas Andi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News