CEO ADNOC Peringatkan Pemulihan Selat Hormuz Bisa Memakan Waktu Dua Tahun



KONTAN.CO.ID - Arus penuh pengiriman minyak melalui Selat Hormuz diperkirakan belum akan kembali normal sebelum kuartal I atau kuartal II 2027, bahkan jika konflik di Timur Tengah berakhir sekarang.

Mengutip Reuters, Kamis (21/5/2026), Chief Executive Officer ADNOC Sultan Al Jaber mengatakan, pemulihan penuh jalur energi strategis tersebut akan membutuhkan waktu panjang akibat dampak perang Iran.

Baca Juga: Khamenei Bersikeras Simpan Uranium di Iran, Trump Hadapi Jalan Terjal


Pernyataan itu menjadi salah satu proyeksi paling pesimistis dari pelaku industri energi global dan menunjukkan besarnya dampak ekonomi dari krisis Timur Tengah yang memicu gangguan besar pasokan energi dunia.

Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) sebelumnya menyebut situasi ini sebagai krisis energi terbesar yang pernah terjadi akibat hampir tertutupnya Selat Hormuz.

Iran saat ini disebut telah membangun kontrol de facto atas jalur pelayaran tersebut. Selat Hormuz merupakan chokepoint penting bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Lonjakan harga energi akibat krisis tersebut telah mendorong inflasi global lebih tinggi dan memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi dunia.

Baca Juga: Rekor Pendakian Everest: 274 Pendaki Capai Puncak dalam Sehari

“Bahkan jika konflik ini berakhir besok, setidaknya dibutuhkan empat bulan untuk mengembalikan arus pasokan ke 80% level sebelum konflik. Arus penuh kemungkinan baru pulih pada kuartal pertama atau bahkan kuartal kedua 2027,” ujar Sultan Al Jaber dalam acara Atlantic Council pada Rabu.

Sebelumnya, CEO perusahaan minyak Arab Saudi Saudi Aramco Amin Nasser juga memperingatkan pasar minyak mungkin tidak akan pulih sebelum 2027 apabila situasi terus berlanjut hingga pertengahan Juni.

Reuters sebelumnya melaporkan Iran memperkuat pengawasannya di Selat Hormuz melalui pemeriksaan kapal, verifikasi, hingga pungutan tertentu terhadap lalu lintas pelayaran.

Teheran mulai menyerang kapal-kapal di kawasan tersebut setelah serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari lalu.

Baca Juga: IPO SpaceX Hampir US$2 Triliun, Taruhan Besar Visi Elon Musk

Iran juga disebut memperluas definisi wilayah Selat Hormuz hingga mencakup garis pantai Teluk Oman milik Uni Emirat Arab di luar selat utama.

Wilayah itu menjadi jalur penting bagi ekspor minyak UEA, terutama melalui pipa minyak mentah yang berakhir di pelabuhan Fujairah.

Menurut Jaber, situasi ini bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga ancaman serius terhadap prinsip kebebasan navigasi global.

“Jika dunia membiarkan satu negara menyandera jalur pelayaran terpenting dunia, maka kebebasan navigasi seperti yang kita kenal bisa berakhir,” ujarnya.

Ia menambahkan, apabila prinsip tersebut tidak dipertahankan sekarang, dunia akan menghadapi konsekuensi yang lebih besar dalam satu dekade ke depan.

Jaber juga menyoroti rapuhnya rantai pasok global akibat konflik tersebut. Menurut dia, harga bahan bakar sudah naik 30%, harga pupuk melonjak 50%, dan tarif penerbangan meningkat sekitar 25%.

Baca Juga: Ancaman Pelemahan Rupee, Ini Risiko Besar Meski RBI Beraksi Agresif!

Ia menyerukan investasi baru untuk memperkuat ketahanan energi global.

“Setiap petani, pabrik, dan keluarga ikut menanggung dampaknya. Dan pihak yang paling rentan menjadi yang paling berat menanggung beban,” kata Jaber.

Menurut dia, dalam waktu sekitar 80 hari sejak konflik berlangsung, hampir 80 negara telah mengambil langkah darurat untuk menopang perekonomian masing-masing.