CEO Adobe Shantanu Narayen Mundur di Tengah Tekanan AI, Saham Turun 7%



KONTAN.CO.ID - Perusahaan perangkat lunak desain Adobe mengumumkan bahwa CEO lamanya, Shantanu Narayen, akan mundur dari jabatannya setelah perusahaan menunjuk pengganti.

Begitu kabar ini muncul, saham Adobe turun lebih dari 7% dalam perdagangan setelah penutupan bursa pada Kamis (12/3).

Pengumuman tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran investor mengenai strategi Adobe menghadapi disrupsi teknologi kecerdasan buatan (AI).


Baca Juga: Grail Ganti CEO: Bob Ragusa Pensiun, Josh Ofman Resmi Jadi Suksesor

Mundur Setelah 18 Tahun Memimpin Adobe

Shantanu Narayen telah memimpin Adobe selama sekitar 18 tahun. Dalam masa kepemimpinannya, ia berhasil membawa berbagai produk unggulan perusahaan menjadi perangkat utama yang digunakan oleh para kreator di seluruh dunia.

Narayen juga memimpin transformasi model bisnis perusahaan menuju layanan berbasis langganan yang kini menjadi tulang punggung pendapatan Adobe.

Mengutip Reuters, Narayen tidak sepenuhnya keluar dari perusahaan. Ia akan tetap menjabat sebagai ketua dewan direksi untuk membantu proses transisi dan mendukung pemimpin baru.

Baca Juga: Denda Rp40 T Mengancam Karir Crispin Odey, Investor Legendaris Inggris

Tekanan AI Mengguncang Posisi Adobe

Adobe saat ini menghadapi perubahan besar dalam industri perangkat lunak. Perkembangan teknologi AI dinilai mampu menurunkan hambatan masuk bagi pemain baru di sektor desain digital.

Teknologi tersebut memungkinkan pembuatan konten kreatif dengan lebih cepat dan biaya lebih rendah, sehingga berpotensi menantang dominasi Adobe.

Analis e-marketer, Grace Harmon, mengatakan investor kemungkinan akan menyoroti apakah kepemimpinan baru nantinya mampu menjaga keseimbangan antara eksekusi bisnis yang disiplin dan investasi agresif di bidang AI.

Meski Adobe telah berinvestasi besar dalam teknologi AI untuk memperkuat rangkaian produknya, keraguan investor terkait waktu monetisasi dan potensi keuntungan dari teknologi tersebut disebut turut memicu tekanan pada saham perusahaan.

Sepanjang tahun ini, saham Adobe telah turun sekitar 22%, setelah sebelumnya juga merosot lebih dari 21% sepanjang 2025. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap arah strategi AI perusahaan.

Baca Juga: CEO West Pharmaceutical Eric Green Umumkan Pensiun, Ini Rencana Transisinya

Kinerja Keuangan Tetap Kuat

Perusahaan membukukan pendapatan kuartal pertama sebesar US$6,40 miliar, melampaui estimasi analis yang berada di angka US$6,28 miliar.

Dari sisi laba, Adobe mencatat laba per saham yang disesuaikan sebesar US$6,06, lebih tinggi dibandingkan perkiraan analis sebesar US$5,87 per saham.

Pendapatan dari segmen langganan Creative dan Marketing Professionals tercatat sebesar US$4,39 miliar, juga melampaui ekspektasi pasar sebesar US$4,32 miliar.

Untuk kuartal kedua, Adobe memperkirakan pendapatan berada di kisaran US$6,43 miliar hingga US$6,48 miliar, dibandingkan estimasi analis sebesar US$6,43 miliar, menurut data yang dihimpun LSEG.

Dengan rencana mundurnya Shantanu Narayen dan meningkatnya persaingan di era AI, arah strategi Adobe ke depan akan menjadi perhatian utama investor dan industri teknologi global.

Baca Juga: Daftar Orang Terkaya di Indonesia Awal Maret 2026: Anthoni Salim Tembus 5 Besar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: