KONTAN.CO.ID - CEO Airbus, Guillaume Faury, mengakui bahwa perbedaan pendapat dengan Dassault Aviation terkait proyek jet tempur generasi baru Eropa masih belum terselesaikan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa proses negosiasi terus berjalan untuk mencari solusi terbaik. Berbicara kepada wartawan pada Selasa (28/4), Faury mengatakan bahwa berbagai pihak yang terlibat masih aktif berdiskusi guna menemukan jalan keluar dari kebuntuan tersebut.
Saya tidak mengatakan bahwa perbedaan ini sudah selesai, tetapi ada pekerjaan yang terus berjalan oleh para pemangku kepentingan untuk menemukan jalan terbaik ke depan,” ujar Faury, seperti dikutip
Reuters. Proyek yang dimaksud merujuk pada pengembangan jet tempur generasi berikutnya dalam kerja sama Prancis dan Jerman, yang menjadi bagian penting dari upaya Eropa memperkuat kemandirian pertahanan.
Baca Juga: Eks CEO Disney, Bob Iger, Kini Jadi Penasihat di Thrive Capital Akar Perselisihan Airbus dan Dassault
Mengutip
Reuters, ketegangan antara Airbus dan Dassault terutama berkaitan dengan pembagian peran industri dan kendali teknologi dalam proyek tersebut. Dassault, sebagai produsen jet tempur Rafale, menginginkan peran dominan dalam desain utama, sementara Airbus mendorong kolaborasi yang lebih seimbang. Perbedaan visi ini sempat memperlambat progres proyek, bahkan memicu kekhawatiran mengenai masa depan program pertahanan strategis Eropa tersebut. Namun, pernyataan terbaru dari Airbus menunjukkan bahwa kedua belah pihak masih berkomitmen melanjutkan dialog.
Baca Juga: CEO Boeing Ungkap Peran Trump dalam Deal Jumbo dengan China Guillaume Faury dan Caranya Memimpin Airbus
Guillaume Faury merupakan salah satu tokoh kunci dalam industri kedirgantaraan global. Ia a menjabat sebagai CEO Airbus sejak April 2019. Sebelumnya, Faury memiliki rekam jejak panjang di sektor aviasi dan pertahanan, di antaranya memimpin Airbus Commercial Aircraft, menjabat CEO Airbus Helicopters, dan memiliki latar belakang teknik dari Ecole Polytechnique di Prancis. Di bawah kepemimpinannya, Airbus menghadapi berbagai tantangan besar, mulai dari pandemi COVID-19 yang menghantam industri penerbangan hingga meningkatnya persaingan global di sektor pertahanan dan teknologi militer. Faury dikenal mendorong inovasi serta kolaborasi lintas negara, termasuk dalam proyek-proyek strategis seperti jet tempur generasi baru Eropa.
Terkait konflik dengan Dassault, ia memilih menjaga jalur komunikasi tetap terbuka. Langkah ini dinilai krusial karena proyek jet tempur tersebut lebih dari bisnis. Masalah ini juga menyangkut kepentingan geopolitik dan kedaulatan teknologi Eropa.
Baca Juga: Profil John Ternus, CEO Baru Apple di Tengah Era AI Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News