KONTAN.CO.ID - Perusahaan energi global BP akan memulai restrukturisasi besar-besaran pada Juni 2026. Langkah ini menjadi bagian dari perubahan strategi perusahaan di bawah kepemimpinan CEO baru, Meg O'Neill, yang mulai menjabat sejak 1 April lalu. Dilansir
Reuters, Meg O'Neill menyampaikan langsung rencana reorganisasi tersebut kepada karyawan dalam sebuah panggilan internal pada Kamis (7/5/2026).
BP akan menyederhanakan struktur bisnisnya menjadi dua unit utama, yakni
upstream (hulu) dan
downstream (hilir).
Baca Juga: Top 5 perempuan Terkaya di Asia Awal 2026: Perintis atau Pewaris? BP Kembali Fokus pada Bisnis Minyak dan Gas
Sebelumnya, BP memiliki tiga unit bisnis utama. Unit
gas and low carbon menangani produksi gas dan proyek energi rendah karbon. Ada juga unit
production and operations mengelola produksi minyak, bisnis darat AS, serta kilang. Sementara itu,
customers and products berfokus pada penjualan bahan bakar, SPBU, dan pelumas. Dalam struktur baru nanti, bisnis gas BP beserta proyek
carbon capture and storage (CCS) akan dimasukkan ke unit
upstream. Sementara bisnis
low carbon dan
biofuel akan dipindahkan ke
downstream. BP sebelumnya pernah menggunakan struktur
upstream dan
downstream sebelum mantan CEO Bernard Looney mengubah organisasi perusahaan pada 2020 demi mempercepat ekspansi energi terbarukan.
Operasi Laut Utara Inggris Juga Jadi Sorotan
O'Neill juga menyinggung peluang tambahan bisnis BP di kawasan Laut Utara Inggris atau
UK North Sea. Meski begitu, ia mengakui wilayah tersebut masih menghadapi tantangan dari sisi kebijakan fiskal. Menurut sumber
Reuters, O'Neill menyebut masih ada peluang pengembangan tambahan di kawasan tersebut, meskipun rezim pajak dan fiskalnya cukup menantang bagi perusahaan energi.
Baca Juga: AirAsia Borong 150 Airbus A220, Ini Sosok Tony Fernandes di Balik Modernisasi AirAsia Siapa Meg O’Neill? CEO Baru BP yang Sedang Mengubah Arah Perusahaan
Meg O'Neill dikenal sebagai salah satu eksekutif senior perempuan paling berpengaruh di industri energi global. Sebelum bergabung dengan BP, ia memiliki pengalaman panjang di sektor minyak dan gas, termasuk pernah menduduki posisi strategis di perusahaan energi besar internasional. O'Neill mulai memimpin BP pada April 2026 dan menjadi CEO kelima perusahaan sejak 2020. Pergantian pimpinan yang cukup sering itu mencerminkan tekanan besar yang dihadapi BP dalam menentukan arah bisnis di tengah transisi energi global.
Sejak hari pertama menjabat, O'Neill langsung mendorong penyederhanaan organisasi dan mempertegas fokus perusahaan terhadap bisnis minyak dan gas. Di bawah kepemimpinannya, BP tampak berusaha menyeimbangkan ambisi energi rendah karbon dengan tuntutan investor yang menginginkan profitabilitas lebih kuat dari sektor migas tradisional.
Baca Juga: Profil Pham Nhat Vuong: Orang Terkaya Asia Tenggara 2026, Bos VinFast dan Green SM Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News