CEO Boeing Dave Calhoun Akan Mengundurkan Diri dalam Perombakan Manajemen



KONTAN.CO.ID -  NEW YORK. Boeing Co mengumumkan bahwa CEO Boeing, Dave Calhoun akan meninggalkan jabatannya pada akhir tahun sebagai bagian dari perubahan manajemen yang diakibatkan oleh krisis besar yang dihadapi oleh perusahaan ini. Krisis tersebut terutama disebabkan oleh kejadian ledakan panel udara pada bulan Januari di pesawat 737 MAX.

Selain itu, Boeing juga mengumumkan bahwa Stan Deal, Presiden dan CEO Boeing Commercial Airplanes, akan pensiun, dan Stephanie Pope akan menggantikannya. Steve Mollenkopf telah ditunjuk sebagai ketua dewan yang baru.

Perubahan kepemimpinan ini bertujuan untuk mengakhiri kekacauan yang terjadi selama berminggu-minggu di Boeing. Insiden-insiden yang terjadi, seperti kecelakaan pesawat 737 MAX 9 milik Alaska Airlines yang membawa 171 penumpang, telah mengakibatkan krisis besar bagi keselamatan dan reputasi perusahaan pembuat pesawat ini.


Baca Juga: Penuhi Permintaan Pasar, BBN Airlines Operasikan 40 Pesawat pada Akhir 2027

Boeing kini dihadapkan pada pengawasan ketat dari badan regulasi dan otoritas AS yang telah membatasi produksinya. Langkah-langkah ini diambil sembari perusahaan berupaya memperbaiki masalah keselamatan dan kualitas. Selain itu, Boeing juga sedang dalam pembicaraan untuk membeli mantan anak perusahaannya, Spirit AeroSystems, dalam upaya untuk mengendalikan rantai pasokannya.

Beberapa CEO maskapai penerbangan AS baru-baru ini mengadakan pertemuan dengan direktur Boeing tanpa kehadiran Calhoun, sebagai bentuk ekspresi keprihatinan atas insiden kecelakaan yang terjadi.

Calhoun, yang telah menghadapi masalah serupa di perusahaan lain sebelumnya, diangkat menjadi CEO Boeing pada bulan Januari 2020 dengan tugas menangani serangkaian krisis, termasuk dua kecelakaan pesawat MAX dan dampak pandemi terhadap permintaan pesawat baru.

Baca Juga: Standar Keselamatan Boeing Dipertanyakan Usai Rentetan Insiden

Meskipun Calhoun mencoba untuk mengarahkan perusahaan keluar dari krisis tersebut, Boeing terus mengalami penundaan produksi. Bahkan, meskipun Federal Aviation Administration (FAA) telah membatasi produksi hingga 38 jet per bulan, Boeing belum mampu mencapai target tersebut.

Krisis ini tidak hanya menimbulkan frustrasi bagi maskapai penerbangan yang mengalami penundaan pengiriman, tetapi juga menyebabkan Boeing mengeluarkan lebih banyak uang dari perkiraan pada kuartal ini.

Sementara itu, saingan utama Boeing, Airbus, baru-baru ini berhasil mendapatkan pesanan 65 jet dari dua pelanggan utama Boeing di Asia, yang dianggap oleh sebagian orang sebagai tanda kekhawatiran terhadap Boeing.

Baca Juga: Airbus Wins Jet Orders From Korean Air and Japan Airlines

Reaksi pasar terhadap berita ini cukup positif, dengan saham Boeing naik 2,8% dalam perdagangan premarket.

Editor: Noverius Laoli