CEO Freeport LNG Michael Smith: Perang Iran Bisa Gagalkan Proyek Gas Baru di AS



KONTAN.CO.ID - CEO Freeport LNG, Michael Smith, mengeluarkan peringatan keras terkait masa depan proyek energi Amerika Serikat di tengah eskalasi konflik antara AS-Israel dan Iran.

Dalam konferensi energi CERAWeek di Houston pada Rabu (25/3), Smith menyatakan bahwa gangguan pasokan yang dipicu oleh perang tersebut terancam menunda pembangunan berbagai proyek gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) di AS.

Sebagai pemimpin perusahaan di negara eksportir LNG terbesar dunia, Smith menyoroti bahwa hambatan saat ini tidak hanya datang dari sisi energi, tetapi juga dari sisi material konstruksi.


Baca Juga: 10 Orang Terkaya di Indonesia Akhir Maret 2026: Anthoni Salim Tembus Empat Besar

Freeport LNG Dorong Pembiayaan

Michael Smith menegaskan posisi strategis perusahaannya dalam menghadapi lonjakan biaya konstruksi dan tekanan inflasi.

Ia menyatakan secara terbuka bahwa Freeport LNG tidak akan melanjutkan rencana pembangunan unit likuefaksi (liquefaction train) keempat mereka jika syarat ekonomi tidak terpenuhi.

"Freeport LNG tidak akan melanjutkan usulan train likuefaksi keempat kecuali bisa mengamankan biaya likuefaksi sebesar US$ 3 per juta British thermal units (mmBtu)," tegas Smith, seperti dilaporkan Reuters.

Menurutnya, langkah ini diambil karena biaya konstruksi yang terus meroket serta kelangkaan tenaga kerja yang sudah menekan pengembang LNG bahkan sebelum konflik Iran pecah.

Selain masalah biaya pembangunan, Smith dan para panelis lain menyoroti nasib kargo LNG yang kini terjebak di dekat Selat Hormuz.

Pihak Mitsui O.S.K. Lines mencatat bahwa kargo-kargo tersebut terus kehilangan nilai akibat proses penguapan yang mengurangi volume gas selama masa tunggu di laut.

Baca Juga: Bos Freeport-McMoRan Optimis Permintaan Tembaga Tetap Kuat di Tengah Perang

Peringatan Smith: Rantai Pasok Global Terancam

Smith melihat bahwa dampak perang Iran-Israel merembet jauh ke sektor manufaktur. 

Ia menyebutkan bahwa ketersediaan baja dan komponen mesin yang diperlukan untuk membangun kilang LNG kini terganggu.

Kondisi ini diperparah dengan penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang secara efektif memutus jalur ekspor 20% pasokan LNG global.

Smith mencatat bahwa gangguan ini mengubah struktur harga pasar secara drastis.

"Harga gas pada Juni dan Juli bisa melampaui US$ 17/mmBtu jika konflik ini berlarut-larut," ujarnya.

Ia merujuk pada persaingan ketat antara Eropa dan Asia dalam memperebutkan pasokan gas untuk musim dingin.

Baca Juga: Bos Narkoba Korea Ditangkap, Kendalikan Jaringan dari Penjara Filipina

Saran untuk Eropa dan Dampak ke Asia Tenggara

Sebagai solusi jangka pendek, Smith menyarankan agar pembeli di Eropa menarik diri sementara dari pasar spot.

Langkah ini dinilai penting untuk membiarkan lebih banyak kargo mengalir ke Asia guna meredam lonjakan harga yang kini telah menyentuh level US$ 21/mmBtu di Asia.

Smith juga mengamini kekhawatiran mengenai "destruksi permintaan" di wilayah Asia Tenggara.

Pada panel yang sama, petinggi Woodside Energy menambahkan bahwa banyak negara berpenghasilan rendah di kawasan tersebut terpaksa beralih kembali ke batu bara karena tidak mampu membeli LNG yang harganya kini melambung.

Baca Juga: Robert Mueller Meninggal Dunia, Eks Bos FBI yang Bongkar Skandal Trump-Rusia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News