KONTAN.CO.ID - CEO hedge fund Citadel, Ken Griffin, menilai gejolak pasar obligasi Jepang sebagai sinyal peringatan bagi Amerika Serikat (AS) untuk segera membenahi kondisi fiskalnya. Menurut Griffin, peristiwa tersebut menunjukkan potensi kembalinya “bond vigilantes”, yakni investor yang menekan pemerintah dengan cara melepas obligasi ketika disiplin fiskal dinilai memburuk. Berbicara kepada Bloomberg di sela-sela World Economic Forum, Griffin menyoroti aksi jual tajam di pasar obligasi Jepang yang terjadi setelah investor bereaksi terhadap wacana kebijakan pemerintah, termasuk potensi penundaan pajak pangan.
Sentimen tersebut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor panjang ke level tertinggi dalam 40 tahun.
Baca Juga: Investor Lari ke Emas? Yield Obligasi Negara Utama Menanjak! Griffin memperingatkan dinamika serupa bisa terjadi di Amerika Serikat jika defisit fiskal tidak terkendali. “Jika kondisi fiskal tidak rapi, investor bisa menarik kembali harga obligasi,” ujarnya. Kenaikan imbal hasil akibat aksi jual, kata Griffin, berpotensi memaksa pembuat kebijakan untuk mengadopsi kebijakan yang lebih ramah stabilitas makro. Kekhawatiran terhadap defisit AS yang terus membesar, menurut Griffin, sudah terlihat dari kenaikan imbal hasil obligasi tenor panjang dalam beberapa tahun terakhir. Ia menilai tren pergerakan harga saham dan obligasi yang kini cenderung searah sebagai kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
Pertama, obligasi menjadi kurang efektif sebagai instrumen lindung nilai karena volatilitas pasar kini memukul saham dan obligasi secara bersamaan.
Baca Juga: Pasar Obligasi Tanah Air Menikmati Reli pada Tahun 2025, Begini Prospeknya ke Depan Kedua, muncul kekhawatiran atas kemampuan AS memenuhi kewajiban utangnya jika surat utang negara mulai dipersepsikan berisiko.
Ketiga, kenaikan imbal hasil akan mendorong biaya pinjaman di seluruh perekonomian menjadi lebih mahal. “Bunga hipotek akan lebih tinggi, dan biaya pembiayaan defisit juga meningkat,” kata Griffin. Ia menegaskan peristiwa di Jepang seharusnya menjadi pesan penting bagi Kongres AS untuk segera merapikan kebijakan fiskal. Kekhawatiran investor terhadap defisit AS semakin menguat dalam beberapa pekan terakhir, seiring meningkatnya tensi geopolitik dan munculnya sejumlah inisiatif kebijakan baru dari Presiden Donald Trump.
Baca Juga: Hedge Fund Borong Saham AS Menjelang Prediksi Penurunan Suku Bunga The Fed Dorongan untuk membuat perumahan lebih terjangkau serta wacana tarif baru terhadap Eropa—meski kemudian dibatalkan—dinilai berpotensi memicu inflasi, yang pada akhirnya menekan permintaan terhadap obligasi pemerintah AS.