KONTAN.CO.ID - Di tengah perdebatan mengenai etika kerja lintas generasi, Ricardo Amper, pendiri sekaligus CEO perusahaan identitas berbasis kecerdasan buatan (AI) bernilai US$ 1,25 miliar, Incode Technologies, mengambil posisi yang unik. Amper menyatakan bahwa kenaifan generasi Z (Gen Z) justru menjadi sumber daya yang sangat kuat di industri teknologi dibandingkan pengalaman kerja yang panjang. Melansir Yahoo Finance, Amper berpendapat bahwa memiliki terlalu banyak pengetahuan dalam industri teknologi terkadang bisa menjadi hambatan.
Prinsip Dasar dan Keunggulan Pikiran Segar
Amper, yang merupakan pengusaha dari generasi X, meyakini bahwa pendekatan berpikir dari prinsip dasar atau first principles sangat krusial dalam pengembangan teknologi. Menurutnya, anak muda sangat membantu karena mereka cenderung kurang memiliki bias terhadap cara-cara lama dalam menyelesaikan masalah. "Keyakinan saya adalah muncul dengan pikiran yang segar dan prinsip dasar itu penting. Itulah mengapa anak muda sangat membantu di bidang teknologi, karena mereka kurang bias," kata Amper seperti dikutip Yahoo Finance. Bagi Amper, karakter dan daya juang atau grit jauh lebih berharga daripada daftar pengalaman di resume. Di era generatif AI dan ChatGPT seperti sekarang, ia mencari orang-orang yang memiliki integritas dan kemampuan untuk bertahan di tengah kesulitan. Kewirausahaan, menurutnya, lebih banyak tentang ketekunan dan karakter dalam menghadapi kesulitan.Keseimbangan Antara Inovasi dan Kematangan Emosional
Meskipun sangat mendukung perekrutan tenaga kerja muda, Amper tidak menutup mata terhadap kekurangan yang mungkin dimiliki oleh Gen Z. Ia menyadari bahwa pekerja muda yang mahir teknologi mungkin masih memerlukan bimbingan dalam hal kematangan emosional. Untuk menciptakan organisasi yang berjalan dengan baik, Incode menerapkan strategi keseimbangan sebagai berikut:- Perekrutan Gen Z: Memanfaatkan perspektif segar, kreativitas, dan minimnya bias untuk mendorong inovasi teknologi.
- Perekrutan Karyawan Senior: Menempatkan tenaga kerja yang lebih tua untuk membawa kematangan emosional dan pengalaman dalam menangani situasi sulit yang dikembangkan melalui jam terbang.
- Kolaborasi Lintas Generasi: Menggabungkan mereka yang pernah melewati masa sulit dengan anak muda yang memiliki visi masa depan yang jernih.