KONTAN.CO.ID - Chief Executive Officer (CEO) raksasa kelapa sawit Malaysia, Fakhrunniam Othman mengonfirmasi pengunduran dirinya dari FGV Holdings Berhad di tengah proses transisi kepemimpinan perusahaan. Dalam pernyataan singkat kepada Reuters pada Kamis (5/3/2026), Fakhrunniam membenarkan kabar tersebut. “Ya, itu benar,” ujarnya melalui pesan singkat.
Baca Juga: Nominasi Ketua The Fed Baru Terancam Tersendat, Trump Dorong Kevin Warsh Namun, Fakhrunniam tidak menjelaskan alasan di balik keputusannya mundur dari perusahaan yang merupakan salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia itu. Pengunduran diri ini terjadi sekitar enam bulan setelah FGV dihapus dari bursa oleh pemegang saham mayoritasnya, Federal Land Development Authority (Felda), lembaga pemerintah Malaysia yang mengelola program pembangunan lahan bagi petani kecil. Pemerintah Malaysia sebelumnya menyatakan bahwa Felda berencana merestrukturisasi FGV dan mengembalikan misi awal perusahaan, yakni memprioritaskan kepentingan petani kecil yang dikenal sebagai settler Felda. Menurut dua sumber internal perusahaan, dinamika manajemen FGV berubah signifikan setelah perusahaan tersebut delisting. Dewan direksi disebut mengambil peran lebih aktif dalam operasi sehari-hari perusahaan.
Baca Juga: Obligasi Jerman Kehilangan Daya Tarik, Investor Beralih ke Emas Salah satu sumber menyebutkan bahwa Fakhrunniam kemungkinan tidak memiliki banyak pilihan selain mengundurkan diri akibat meningkatnya intervensi dewan dalam manajemen. “Saya percaya Fakhrunniam tidak punya pilihan lain karena adanya campur tangan dewan direksi dalam manajemen. Ia pergi karena prinsip, karena merasa tidak lagi dapat menjalankan perannya secara efektif,” kata sumber tersebut, seraya menambahkan bahwa Fakhrunniam meninggalkan perusahaan pada 27 Februari. Sejumlah kontrak anggota tim kepemimpinan yang masa jabatannya akan berakhir juga dilaporkan tidak diperpanjang, seiring perubahan prioritas dewan direksi FGV. Untuk sementara waktu, tanpa kehadiran CEO, dewan direksi mengambil alih tanggung jawab eksekutif perusahaan melalui sebuah komite yang terdiri dari tiga anggota. FGV sendiri pernah mencatatkan sejarah besar saat melakukan penawaran saham perdana pada 2012, yang kala itu menjadi salah satu IPO terbesar di dunia.
Baca Juga: Australia–Kanada Perkuat Aliansi Mineral Kritis, Tantang Dominasi China Namun, perusahaan kemudian menghadapi berbagai tantangan, termasuk kerugian besar serta persoalan tata kelola perusahaan. Pada 2020, FGV juga sempat menghadapi tuduhan penggunaan tenaga kerja paksa di perkebunannya, yang membuat pemerintah Amerika Serikat melarang impor produk perusahaan tersebut. Larangan itu akhirnya dicabut pada Januari lalu setelah otoritas bea cukai Amerika Serikat menilai perusahaan telah mengambil langkah yang memadai untuk mengatasi tuduhan tersebut.