KONTAN.CO.ID - Tether berencana mengalokasikan sekitar 10%–15% dari portofolio investasinya ke emas fisik, kata CEO Tether Paolo Ardoino, menambah kepemilikan emas yang disebut perusahaan sudah digunakan untuk menopang sebagian produknya. Tether yang berbasis di El Salvador menyatakan, saat ini memiliki sekitar 130 ton emas fisik untuk mendukung produk-produknya, setelah menambah 27 ton pada kuartal IV. Melansir
Reuters Rabu (28/1/2026), Ardoino mengatakan bahwa perusahaan membeli sekitar dua ton emas per pekan.
Baca Juga: Harga Emas Tembus US$ 5.311, Efek Pelemahan Dolar dan Kekhawatiran Putusan The Fed “Untuk portofolio kami sendiri, masuk akal jika sekitar 10% dialokasikan ke bitcoin dan 10% hingga 15% ke emas,” ujar Ardoino, tanpa mengungkapkan nilai total portofolio investasi Tether maupun porsi yang secara spesifik disimpan dalam bentuk emas fisik. “Ibarat memiliki dua anak dan harus memilih mana yang lebih cantik sulit menentukan mana yang lebih saya sukai,” tambahnya dalam wawancara video. Tether menyatakan ingin tetap mempertahankan kepemilikan emas fisik yang disimpan di Swiss. Perusahaan tidak menetapkan target pembelian emas tertentu dan akan mengevaluasi keputusan tersebut setiap kuartal. Menurut Ardoino, Tether telah membeli emas secara agresif menggunakan laba perusahaan sejak 2020, saat pandemi COVID-19 melanda, dan terus meningkatkan pembelian seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global. “Dunia saat ini tidak berada dalam kondisi yang bahagia. Harga emas mencetak rekor tertinggi hampir setiap hari. Mengapa? Karena semua orang takut,” kata Ardoino.
Baca Juga: Ekonom Harvard: Instrumen Krisis The Fed Berpotensi Dijadikan Senjata Oleh Trump Tahun lalu, harga emas melonjak 64%. Tether juga mengungkapkan telah membeli emas dalam jumlah besar tahun lalu untuk menopang stablecoin USDT, dolar digital dengan nilai token beredar sekitar US$186 miliar, serta Tether XAUT, token berbasis emas dengan nilai beredar sekitar US$2,7 miliar. Sepanjang tahun ini, harga emas telah naik sekitar 22% dan mencetak rekor tertinggi US$5.311 per ons troi pada Rabu, didorong oleh melemahnya kepercayaan terhadap dolar AS dan kekhawatiran atas independensi Federal Reserve. Tether, yang menurut Ardoino mempekerjakan sekitar 250 karyawan, menginvestasikan cadangan yang mendukung USDT ke surat utang pemerintah AS, serta berbagai aset lain.
Baca Juga: Pelaku Pasar Menanti Kinerja Keuangan Perusahaan Teknologi Magnificent Seven di AS Ardoino memperkirakan laba Tether pada 2026 akan melampaui US$10 miliar yang diperkirakan diraih pada 2025, dan bahkan bisa menembus US$13,7 miliar seperti yang dicapai pada 2024. Selain itu, Tether juga menginvestasikan laba perusahaan ke US Treasury, bitcoin, sektor teknologi, perusahaan royalti emas, serta berbagai aset lainnya.