Cerita Dua UMKM PRJ 2026 Mampu Bertahan dengan Digitalisasi Finansial



KONTAN.CO.ID - Di balik deretan produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau Jakarta Fair 2026, tersimpan kisah perjuangan dan semangat yang luar biasa. Sumpono pemilik Bakpia Mbok Sukar asal Sleman, Yogyakarta salah satunya yang sukses membawa bisnisnya bertahan selama tiga dekade lewat transformasi digital.

Dirintis sejak 1996, usaha bakpia pria 52 tahun itu awalnya sangat bergantung pada perputaran pariwisata lokal. Namun, hantaman pandemi COVID-19 memaksanya memutar otak untuk terus


bertahan. "Bagi pelaku usaha, yang paling penting adalah jangan berhenti mencari peluang. Kalau kondisi berubah, kita juga harus ikut berubah," ujar Sumpono.

Ia pun mulai merambah pasar digital dan meragamkan varian produknya. Keputusan ini jadi titik balik. Kini, Bakpia Mbok Sukar mampu mencatatkan omzet ratusan juta rupiah setiap bulan dan menghidupi puluhan karyawan.

Pengalaman serupa dirasakan Ragil Suryo (38), pemilik Weeka Wedang Uwuh yang dirintis sejak 2014. Bermula dari satu produk wedang uwuh, Ragil dan istrinya kini sukses mengembangkan berbagai minuman botanikal seperti Sereh Jahe Jeruk Nipis (Seruni) hingga Kunyit Asam.

Selain inovasi produk, Ragil juga memperluas jangkauan lewat sistem reseller dan platform digital atau e-commerce. Menariknya, saat melihat banyak reseller-nya tumbuh di e-commerce, Ragil memilih tidak agresif berjualan di platform yang sama demi menjaga ekosistem distribusinya.

Bagi Sumpono dan Ragil era digitalisasi bukan lagi sebuah opsi tambahan, melainkan kebutuhan bagi pelaku usaha yang ingin terus berkembang. Dimana, kehadiran layanan digital membantu usaha menjadi lebih mudah diakses pelanggan dan membuat proses transaksi menjadi lebih praktis.

Sumpono (52) saat mengikuti bazar di Pekan Raya Jakarta, 14 Juni 2026 (dok. istmewa)
© Foto oleh Rahasia
Selain memasarkan produk melalui kanal digital, keduanya kini juga memanfaatkan aplikasi dompet digital atau e-wallet seperti ShopeePay untuk mendukung kelancaran usaha. "Kalau cashless lebih praktis, saya tidak perlu siapkan uang kembalian dan transaksi lebih terjamin keamanannya," kata Ragil.

Dengan dompet digital, mulai dari menerima pembayaran hingga melakukan pembelian untuk kebutuhan operasional sehari-hari, berbagai transaksi jual beli juga terasa lebih praktis.

Hal yang sama juga dirasakan Sumpono, pascapandemi konsumen semakin terbiasa bertransaksi non-tunai, bahkan saat berbelanja langsung secara offline. Aplikasi dompet digital atau e-wallet seperti ShopeePay dirasa sangat mendukung kelancaran usahanya.

"Pelanggan menginginkan proses yang lebih praktis. Kita harus bisa mengikuti kebutuhan mereka,” tambahnya.

Strategi Menjaga Arus Kas Tetap Sehat

Beberapa produk unggulan Weeka Wedang Uwuh yang dipasarkan di Pekan Raya Jakarta, 14 Juni 2026.(dok. istimewa)
© Foto oleh Rahasia
Tak hanya itu, tantangan UMKM tidak berhenti pada penjualan, melainkan juga pengelolaan arus kas (cash flow), terutama saat permintaan operasional melonjak seperti menjelang Lebaran beberapa waktu lalu.

Ragil menceritakan pengalamannya saat harus menyediakan hampers karyawan dan membeli bahan baku, sementara dana usaha masih tertahan di pesanan sebelumnya. Pada situasi tersebut, Ragil memanfaatkan layanan kredit seperti SPayLater dengan perencanaan pembayaran yang matang untuk memenuhi kebutuhan pembelian hampers tersebut, serta

mendukung operasional usaha seperti pembelian bahan baku yang dilakukan melalui platform digital.

Menurut Ragil, keputusan tersebut bukan diambil sebagai solusi jangka pendek, tetapi guna menjaga arus kas agar operasional usaha tetap berjalan tanpa mengganggu rencana pengembangan bisnis. Oleh karena itu, penggunaan SPayLater saat itu dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan pembayaran, tenor dan nominal yang sesuai kebutuhan, serta niat yang kuat agar selalu disiplin dalam melakukan pembayaran.

“Pakai paylater pokoknya di saat lagi arus kas sedang turun dan benar-benar ada kebutuhan operasional usaha, seperti beli bahan baku. Jadi, perputaran uang tetap berjalan, arus kas tetap lancar juga,” jelas Ragil.

Bagi Ragil, perjalanan membangun usaha selama lebih dari satu dekade mengajarkan bahwa pertumbuhan usaha tidak selalu ditentukan oleh seberapa cepat bisnis berkembang, tetapi juga bagaimana pelaku usaha menjaga keseimbangan antara peluang dan kesiapan.

Di tengah perubahan perilaku konsumen dan semakin terbukanya akses digital, kemampuan mengelola finansial dan mengambil keputusan dengan teknologi digital menjadi bagian penting agar usaha dapat terus bergerak dan bertumbuh.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: