Cerita Istana, isu Budi Gunawan dan Abraham Samad



BOGOR. Pihak istana membantah tudingan yang disampaikan politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Hasto Kristyanto, mengenai pertemuan yang dilakukan elit partai berlambang kepala banteng itu, dengan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad (AS). 

Kabarnya, pertemuan itu dilakukan menjelang penetapan calon wakil presiden, untuk mendampingi calon presiden Joko Widodo (jokowi). Sekertaris Kabinet Andi Widjajanto, mengatakan sebagai Ketua KPK, Abraham Samad tidak dimungkinkan untuk melakukan pertemuan.

Andi saat itu menjadi salah satu anggota tim 11 yang dibentuk ketua umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri untuk pemenangan Jokowi sebagai presiden. "Dalam suatu pertemuan di Yogya, di bulan Februari ada tujuh nama kandidat cawapres yang diusulkan, salah satunya pak AS," ujar Andi, Kamis (22/1) di Istana Bogor.


Kemudian, tim 11 menyiapkan sejumlah data yang dibutuhkan Megawati, dalam mempertimbangkan salah satu bakal cawapres itu. Andi mengaku, tim 11 kesulitan ketika harus menyediakan data-data mengenai AS, karena tidak bisa melakukan wawancara langsung, tidak seperti dengan calon lainnya.

Ada etika kelembagaan yang harus dipenuhi sebagai pimpinan KPK oleh AS, yang membuat tim 11 tidak bisa bertemu langsung. Satu-satunya cara yang dilakukan, adalah mengumpulkan informasi mengenai AS berdasarkan sumber sekunder, seperti informasi di media masa. Kemudian, pada akhirnya Megawati memutuskan untuk memilih Jusuf Kalla yang mendampingi Jokowi. 

Dalam cerita Hasto, salah satu yang mengganjal pencalonan AS adalah keberadaan Komisaris Jenderal Budi Gunawan. Yang seperti diketahui saat ini, nama Budi telah ditetapkan sebagai tersangka dalam tindak pidana korupsi oleh KPK. Karena penetapan ini, Jokowi juga tidak jadi melantik Budi menjadi Kapolri.

Tudingannya, penetapan tersangka Budi juga ada kaitannya dengan kisah gagalnya AS menjadi Cawapres. "Saya tidak bisa konfirmasi soal itu, belum mendengar pernyataan Hasto," ujar Andi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Uji Agung Santosa