Cerita sukses Koperasi Pertanian Gema Palagung



KONTAN.CO.ID - Keputusan Imanuel Polin (50) mundur dari pegawai PT Pos Indonesia Kupang dan kemudian bergelut di dunia koperasi kini berbuah manis.

"Pada 1999, saya masuk menjadi anggota Koperasi Pertanian Gema Pakagung di Kabupaten Kupang, NTT. Tapi, saat itu, saya masih terikat sebagai pegawai PT Pos,” kenang Imanuel Polin yang akrab disapa Impol.

Tapi berhubung koperasi itu sudah tidak aktif lagi, cerita Impol, dirinya dipanggil pembina dan pengurus lama koperasi untuk mengaktifkan kembali. Maka, pada 2010 dilaksanakan Rapat Anggota Luar Biasa.


"Dalam rapat tersebut saya terpilih sebagai Ketua dan diberi kepercayaan untuk mengelola Koperasi Pertanian Gema Palagung ", kata Impol dalam keterangan tertulis yang KONTAN terima pada Selasa (22/08).

Langkah Impol membesarkan Gema Palagung bukan hasil 'simsalabim'. Melainkan hasil perjuangan panjang tak kenal lelah. Impol bercerita, pada 2010, Koptan Gema Palagung mendapat bantuan dana dari Kementerian Koperasi dan UKM sebesar Rp50 juta.

"Melalui rapat anggota, dana tersebut kami salurkan ke anggota koperasi untuk pembelian sapi ternak yang sampai saat ini masih dipelihara oleh anggota koperasi", kata dia.

Pada 2011, Koptan Gema Palagung kembali mendapat bantuan dana dari Kemenkop dan UKM untuk pengadaan pupuk sebesar Rp100 juta. Begitu juga pada 2014, kata Impol, koperasinya mendapat bantuan dana lagi dari Kemenkop dan UKM sebesar Rp65 juta.

Impol menjelaskan, bantuan dana Rp100 juta digunakan untuk membesarkan unit usaha UKM Mart milik anggota koperasi yang sudah memiliki kios.

"Bermodal bantuan Rp100 juta itu kami mengajukan permohonan kepada PT Pertani sebagai pengecer pupuk di Kecamatan Kupang Timur untuk jenis pupuk urea, NPK Phonska, SP_36, ZA, dan Petroganik", papar Impol lagi.

Langkah Koptan Gema Palagung semakin melaju ketika pada 2015 dipercaya Kemenkop dan UKM sebagai distributor pupuk PT Petrokimia Gresik di Kabupaten Kupang yang membawahi 18 kecamatan. "Pada 2016, kami dipercaya lagi oleh Petrokimia Gresik sebagai distributor pupuk di Kabupaten Belu dan Kabupaten Malaka", imbuh Impol.

Laju Koptan Gema Palagung tak berhenti sampai di situ. Pada Maret 2017, mereka dipercaya PT Pupuk Kaltim sebagai distributor pupuk di Kabupaten Kupang yang membawahi 21 kecamatan. "Banyak harapan kami ingin berbuat untuk seluruh masyarakat Kabupaten Kupang, Belu, dan Malaka, lewat pendekatan ke petani sebagai distributor pupuk bersubsidi", kata Impol.

Kini, kinerja koperasi yang memiliki unit usaha simpan pinjam, penggemukan sapi, dan pengecer pupuk, semakin diperhitungkan. "Dan sampai saat ini, koperasi ini aktif melaksanakan RAT setiap tahunnya dan memiliki jumlah anggota koperasi sebanyak 83 orang dengan susunan pengurus dan pengawas yang diangkat dalam RAT untuk periode kepengurusan tahun 2014-2018", kata Impol dengan bangga.

Lebih Menjanjikan

Hanya saja, meski sudah berbuah manis, langkah dan keputusan Impol mundur dari PT Pos pada 1989 terbilang berani dan menantang. Pasalnya, langkah itu diambil justru di tengah banyak pencari kerja mendaftar sebagai calon PNS di berbagai instansi pemerintah. "Alasan saya memilih mundur karena menganggap dengan bertani memiliki masa depan lebih baik,” ungkap Impol.

Impol pun menggarap lahan miliknya di Desa Oesao, Kecamatan Kupang Timur. "Menjadi petani sepertinya sudah menjadi panggilan hidup bagi saya sejak duduk di bangku SLTP. Saat itu, saya sudah menemani Ayah saya (Martinus Polin, red.) mengolah lahan seluas tiga hektar", cerita Impol.

Setelah resmi mengundurkan diri sebagai pegawai PT Pos pada 2006, Impol semakin mantap menekuni langkah barunya sebagai seorang petani. "Lahan tersebut kami tanami jagung, padi, lombok, dan sayur-sayuran. Dari hasil panennya, saya bisa membangun rumah, membeli lahan pertanian, beternak sapi, dan menyekolahkan ketiga anak saya,” pungkas Impol.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto