KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) memasang target ambisius untuk 2026. Setelah membukukan pertumbuhan kredit double digit pada 2025, bank spesialis pembiayaan perumahan ini kini membidik lonjakan laba bersih hingga 22%, seiring strategi perbaikan kualitas aset, penurunan biaya kredit, dan penguatan permodalan. Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI di Gedung DPR, Senin (26/1/2026), Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menyampaikan bahwa tahun ini bank mematok pertumbuhan kredit di kisaran 8%–9%. Namun, target yang sudah diajukan sebagai rencana bisnis bank (RBB) ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini masih bakal disesuaikan.
“Terus terang OJK minta targetnya dinaikkan karena tahun lalu kita di 12%,” ujar Nixon.
Baca Juga: Transaksi QRIS Cross Border BCA Melonjak 186% pada Akhir 2025 Di luar itu, BTN juga optimistis terhadap kinerja laba. Bank menargetkan pertumbuhan laba bersih sebesar 20–22% pada 2026. Menurut Nixon, target tersebut masih realistis seiring membaiknya kualitas aset. “
Net profit kita masih berani tulis 20%–22% karena memang masalah-masalah kredit masa lalunya sudah selesai, jadi sudah bersih,” katanya. Dari sisi pendanaan, BTN menargetkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 7%–8%, dengan
cost of fund (COF) dijaga di bawah 3,6%. Sementara itu, cost of credit (COC) ditargetkan berada di kisaran 1%–1,2%, dan rasio kredit bermasalah (NPL) ditekan ke bawah 3%. Untuk mendukung pertumbuhan tersebut, BTN menyiapkan sejumlah aksi korporasi. Bank berencana melakukan penguatan permodalan melalui penerbitan instrumen tier 2 capital senilai Rp 2 triliun pada semester I 2026. “Penerbitan tier 2 capital lagi, Rp 2 T. Nanti kita harapkan juga dibeli Danantara,” sebut Nixon. Selain itu, BTN juga akan menerbitkan wholesale funding senilai Rp 4 triliun pada periode semester I hingga semester II 2026. Di sisi pengembangan bisnis, perseroan berencana mendirikan anak usaha asuransi umum dengan nilai investasi Rp 250 miliar pada semester II 2026, serta anak usaha perusahaan pembiayaan dengan nilai aset awal sekitar Rp 3 triliun–Rp 5 triliun.
Baca Juga: Resmi Lakukan Spin Off, Sinar Mas Asuransi Syariah Ungkap Alasan Berdiri Mandiri Dengan sejumlah target dan rencana tersebut, Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai prospek BTN pada 2026 cukup menarik. Namun, itu sangat bergantung pada eksekusinya. Menurutnya, target pertumbuhan kredit 8%–9% masih realistis mengingat kekuatan BTN di segmen KPR dan dukungan kebijakan pemerintah pada sektor perumahan. Pun, target laba dinilai mungkin saja tercapai, terutama kalau kualitas kredit benar-benar membaik. “Kuncinya ada di COC yang turun ke 1%–1,2% dan NPL di bawah 3%,” ujar Ekky kepada Kontan, Senin (26/1/2026). Dari sisi pendanaan, Ekky menilai target COF di bawah 3,6% cukup menantang, namun masih memungkinkan jika pertumbuhan DPK sesuai rencana dan biaya wholesale funding tetap efisien. “Penerbitan wholesale funding Rp 4 triliun bisa bantu likuiditas, tapi pasar akan melihat cost-nya. Kalau mahal, bisa tekan margin,” jelasnya. Ia juga menilai penguatan modal Rp 2 triliun sebagai langkah positif untuk menjaga permodalan dan membuka ruang ekspansi. Sementara rencana pendirian anak usaha asuransi dan pembiayaan dinilai lebih sebagai cerita jangka menengah.
“Ini bisa jadi sumber
fee dan
cross-selling ke ekosistem perumahan, tapi dampaknya ke laba belum langsung terasa dalam 1–2 kuartal,” tambahnya. Dari sisi saham, Ekky menyebut pergerakan BBTN ke depan akan sangat ditentukan oleh realisasi perbaikan kualitas aset dan biaya dana pada semester I 2026. Jika data mulai membaik, ia bilang saham BTN bisa cepat di respon pasar sebagai
turnaround story.
Ia merekomendasikan strategi akumulasi bertahap dengan target harga di kisaran Rp 1.450–Rp 1.600, seiring perbaikan kinerja dan sentimen perbankan yang membaik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News