KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah dominasi pasien BPJS Kesehatan, PT Medikaloka Hermina Tbk (
HEAL) terus memperluas jaringan rumah sakitnya. Hal tersebut pun terus berlanjut di tahun 2026. Meski langkah ini dinilai memperkuat prospek pertumbuhan jangka panjang, dampaknya terhadap kinerja laba dalam jangka pendek diperkirakan masih terbatas dan dibayangi sejumlah risiko struktural di sektor kesehatan. Untuk diketahui, HEAL terus melanjutkan strategi ekspansi bisnisnya dengan rencana pembukaan tiga rumah sakit baru pada 2026 sebagai bagian dari strategi jangka panjang HEAL menuju 70 rumah sakit pada 2030.
Langkah ini dinilai membuka peluang pertumbuhan volume pasien dan memperluas jangkauan layanan HEAL, terutama seiring meningkatnya cakupan kepesertaan BPJS Kesehatan.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Menguat pada Selasa (20/1), Cek Rekomendasi Sahamnya Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai, ekspansi tersebut secara struktural bersifat positif bagi HEAL. Namun, kontribusi terhadap kinerja keuangan, khususnya laba, diperkirakan belum akan signifikan dalam jangka pendek. “Rumah sakit baru umumnya membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua tahun untuk mencapai tingkat utilisasi yang optimal. Dengan demikian, dampak ekspansi terhadap laba HEAL pada 2026 kemungkinan masih terbatas,” ujarnya kepada Kontan, Senin (19/1/2026). Sama halnya, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, komitmen HEAL dalam merealisasikan rencana ekspansi tersebut menjadi faktor penting yang perlu dicermati investor. Tetapi, hasil dari keberhasilan pembangunan rumah sakit baru pada 2026 ini masih akan menjadi fondasi bagi pertumbuhan kinerja HEAL dalam jangka waktu panjang. Di luar ekspansi tersebut, terdapat sejumlah katalis positif yang berpotensi menopang kinerja HEAL ke depan. Di antaranya adalah kemitraan strategis dengan Grup Astra dan Grup Djarum, yang dinilai dapat memperkuat ekosistem layanan kesehatan perseroan. Selain itu, potensi pemulihan kondisi keuangan BPJS juga berpeluang mendorong peningkatan volume pasien serta utilisasi layanan rumah sakit. Harry menambahkan, pembaruan kebijakan di sektor kesehatan, termasuk penerapan skema
Coordination of Benefit (COB), berpotensi menjadi sentimen pendukung bagi kinerja operasional HEAL. Di sisi lain Equity Research Analyst Ciptadana Sekuritas Alif Ihsanario berpandangan bahwa HEAL berada pada posisi sebagai salah satu penerima manfaat paling langsung dari momentum demografi Indonesia serta permintaan berkelanjutan terhadap layanan kesehatan ibu, anak, dan layanan kesehatan mass market, dengan basis cakupan JKN mencapai 99%.
Ada pun menurut Alif, kenaikan subsidi iuran JKN dan kebijakan penghapusan utang diharapkan dapat menstabilkan kondisi keuangan BPJS dan mempertahankan cakupan universal. “Namun, dengan tingkat partisipasi JKN yang sudah mendekati titik jenuh, pertumbuhan volume diperkirakan akan kembali ke level yang lebih normal dibandingkan periode sebelumnya,” ujar Alif dalam riset 20 Desember 2025. Lebih lanjut Alif bilang, ada sejumlah risiko masih perlu dicermati pelaku pasar terhadap prospek kinerja HEAL ke depan. Risiko tersebut antara lain pertumbuhan trafik pasien yang lebih lambat dari perkiraan, berlanjutnya tekanan keuangan BPJS Kesehatan, serta potensi penundaan transisi kerangka tarif layanan kesehatan. Selain itu, percepatan operasional rumah sakit yang tidak mencapai target, pelemahan kondisi makroekonomi, hingga meningkatnya intensitas wisata medis ke luar negeri juga berpotensi menekan kinerja HEAL dalam jangka menengah. Dilihat dari kinerja keuangannya, HEAL mencatat kenaikan pendapatan 5,20% secara tahunan menjadi Rp 5,29 triliun pada kuartal III-2025. Namun, akibat beban yang melejit, laba bersih HEAL dibukukan Rp 356,02 miliar, turun 23,95% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp 468,16 miliar. Melihat beragam faktor di atas, Harry memproyeksikan kinerja laba bersih HEAL pada 2026 masih cenderung terbatas. Tekanan pada sistem pembiayaan kesehatan nasional dinilai akan membatasi ruang pertumbuhan laba, sehingga pemulihan kinerja belum akan terlihat kuat dalam waktu dekat.
Baca Juga: SBN Ritel Diproyeksi Tetap Jadi Pilihan Investasi pada Tahun 2026, Ini Alasannya Mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Harry memberikan rekomendasi untuk beli saham HEAL dengan target harga Rp 1.800 per saham. Kemudian Nafan merekomendasikan investor untuk
accumulative buy saham HEAL dengan target harga Rp 1.550 per saham.
Tak ketinggalan Alif memberikan rekomendasi kepada investor untuk
buy saham HEAL dengan target harga Rp 1.600 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News