KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) ditutup melemah 18,39 poin atau 0,26% ke 6.971,02 pada akhir perdagangan Selasa (7/4/2026). Dalam sebulan perdagangan terakhir, performa indeks juga merosot hingga 13,05%. Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan pelemahan IHSG pada perdagangan hari ini lebih dipicu kombinasi sentimen global dan domestik. Dari eksternal, eskalasi geopolitik Timur Tengah yang tidak juga menemukan titik terang mendorong
risk off sentiment dan kenaikan harga minyak, sehingga memicu kekhawatiran inflasi global kembali meningkat.
Baca Juga: IHSG Masih Rawan Koreksi Pada Rabu (1/4/2026), Berikut Rekomendasi Saham dari Analis Terkait FTSE Russel hari ini memang terlihat bagus bagi Indonesia, namun ada penundaan
review yang membuat investor cenderung lebih menahan atau
wait and see. Sementara dari domestik, tekanan berasal dari aksi
profit taking, pelemahan nilai tukar rupiah, serta kekhawatiran terhadap daya beli dan pertumbuhan ekonomi. "Adanya jurang fiskal yang melebar pun menjadi kekhawatiran tersendiri namun belum terlihat signifikan. Dengan kondisi tersebut, koreksi IHSG saat ini lebih bersifat global
driven dibanding faktor domestik," kata Elandry kepada Kontan, Selasa (7/4/2026). Elandry memproyeksikan dalam jangka pendek, IHSG masih berpotensi bergerak
sideways cenderung melemah dengan kisaran 6.800–7.050.
Baca Juga: Dinilai Masih Prospektif, Simak Rekomendasi Saham HEAL, MIKA dan SILO Adapun hingga akhir kuartal II-2026, ia memetakan tiga kemungkinan pergerakan IHSG, antara lain:
- Sideways case: IHSG bergerak konsolidatif di area 7.200–7.400
- Bull case: Jika tensi geopolitik mulai mereda, IHSG berpeluang menguat ke 7.500–7.700
- Bear case: Jika tekanan global semakin besar, IHSG berisiko turun ke 6.500–6.700
Saat ini pasar berada dalam fase ketidakpastian tinggi, sehingga belum terbentuk tren yang kuat. Di tengah tekanan jual yang masih tinggi, investor ritel sebaiknya mengedepankan kehati-hatian. Strategi yang disarankan ialah akumulasi bertahap atau
buy on weakness, fokus pada saham berfundamental kuat dan defensif serta mengutamakan manajemen risiko. Sementara itu, investor sebaiknya menghindari langkah masuk pasar secara agresif sekaligus, membeli saham spekulatif tanpa perencanaan, serta melakukan
overtrading maupun penggunaan marjin secara berlebihan.
Baca Juga: Besok (3/4) Bursa Saham Libur, Cek Rekomendasi Saham Pilihan Analis Hari Ini Beberapa sektor yang masih menarik dicermati adalah energi, batubara, perbankan besar, dan
consumer defensive. Adapun saham pilihan Elandry meliputi PT Adaro Energy Indonesia Tbk (
ADRO) dengan target harga Rp 2.600–Rp 2.700, PT Bank Central Asia Tbk (
BBCA) di level Rp 6.800–Rp 7.000, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (
ICBP) sebesar Rp 7.600–Rp 7.800, serta PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (
PGEO) dengan target Rp 1.100–Rp 1.200. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News