Cetak Kinerja Positif, Simak Prospek Saham ADRO dan ADMR



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dua emiten Grup Alamtri, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) mencetak kinerja solid sepanjang semester I-2026. Potensi berlanjutnya kinerja positif ini cukup terbuka, tergantung dari perkembangan harga batubara dan realisasi proyek hilirisasi.

Sebagaimana diketahui, pendapatan usaha ADRO meningkat 16,50% year on year (yoy) menjadi US$ 999,24 juta pada semester I-2026. Pada saat yang sama, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk ADRO melesat 76,84% yoy menjadi US$ 309,37 juta.

Setali tiga uang, pendapatan usaha ADMR meningkat 31,52% yoy menjadi US$ 583,88 juta pada semester I-2026. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk ADMR juga naik 23,97% yoy menjadi US$ 174,18 juta. 


Pengamat Pasar Modal dari Sekolah Saham Indonesia, Raden Bagus Bima mengatakan, hasil kinerja positif ADRO dan ADMR pada semester I-2026 sangat dipengaruhi oleh penguatan harga komoditas awal tahun, khususnya batubara metalurgi yang jadi produk utama ADMR. Selain itu, peningkatan kinerja, khususnya laba, juga disebabkan oleh efek keuntungan selisih kurs, efisiensi operasional, dan strategi diversifikasi bisnis yang mulai memberikan kontribusi. 

Baca Juga: Laba Alamtri Resources (ADRO) Melesat 76,84% di Semester I-2026

Senada, Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menyampaikan, ADRO diuntungkan secara langsung dari harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) yang lebih tinggi ditambah efisiensi cash cost yang konsisten. Hal ini kemudian dapat memperbesar konversi ASP menjadi laba. 

"Sedangkan, ADMR mendapat manfaat ganda dari harga batubara metalurgi yang secara historis lebih premium, ditambah kenaikan volume produksi seiring permintaan industri baja global yang membaik," ungkap dia, Senin (31/8/2026).

Abida melanjutkan, tren positif kinerja ADRO dan ADMR berpotensi berlanjut, namun cenderung lebih moderat mengingat basis perbandingan yang lebih tinggi. Sentimen yang perlu dicermati bagi kedua emiten ini antara lain wacana kenaikan harga Domestic Market Obligation (DMO), kebijakan ekspor satu pintu dari PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), dan volatilitas harga metalurgi seiring dinamika baja di pasar China. 

Khusus ADMR, pendapatan mereka berpotensi bertambah signifikan begitu smelter aluminium PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI) mencapai produksi optimal pada akhir 2026. Kehadiran smelter tersebut tentu akan membuka keran pendapatan baru bagi ADMR di luar segmen batubara. 

Sementara menurut Raden, sentimen utama yang perlu diperhatikan oleh ADRO dan ADMR adalah volatiltas pergerakan harga batubara, permintaan dari China dan India, perkembangan industri baja global sebagai konsumen batubara metalurgi, hingga realisasi proyek hilirisasi Grup Alamtri itu sendiri.

“Jelang akhir tahun biasanya sektor pertambangan ini dominan menguat karena kenaikan permintaan dan juga investor mulai mengakumulasi seiring potensi nilai dividen yang cukup besar,” kata dia, Senin (31/8/2026).

Baca Juga: Ekspor Perdana Aluminium Buka Peluang Baru ADMR, Simak Prospek Sahamnya

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan, strategi yang perlu diperkuat oleh ADRO dan ADMR adalah menjaga keseimbangan antara 

Strategi yang perlu diperkuat adalah menjaga keseimbangan antara segmen penghasil arus kas berbasis batubara dengan pengembangan bisnis hilirisasi dan mineral. Untuk ADRO, emiten ini perlu mempertahankan disiplin biaya, meningkatkan efisiensi operasional, mengoptimalkan bauran produk, serta memastikan bisnis jasa pertambangan tetap menghasilkan margin yang sehat. 

Di sisi lain, ADMR perlu memprioritaskan keberhasilan ramp-up kapasitas smelter aluminium agar transformasi bisnis dari pemain asli batubara kokas atau metalurgi menuju perusahaan yang punya eksposur terhadap aluminium yang menghasilkan pendapatan berulang baru.

Pada saat yang sama, baik ADRO maupun ADMR perlu menjaga neraca dan arus kas agar ekspansi yang mereka lakukan tidak terlalu membebani kondisi keuangan.

“Kunci Grup Alamtri hingga akhir 2026 bukan hanya mengejar pertumbuhan volume, tetapi juga meningkatkan kualitas laba melalui efisiensi, hilirisasi, diversifikasi komoditas, dan disiplin alokasi kapital,” jelas Nafan, Senin (31/8/2026).

Lantas, Nafan merekomendasikan add saham ADRO dengan target harga Rp 2.490 per saham, Rp 2.590 per saham, dan Rp 2.760 per saham. Rekomendasi add juga disematkan untuk saham ADMR dengan target harga Rp 1.570 per saham, Rp 1.695 per saham, dan Rp 1.760 per saham.

Di lain pihak, Raden merekomendasikan netral saham ADRO dengan target harga di level Rp 2.880 per saham dan beli saham ADMR dengan target harga Rp 1.925–Rp 2.000 per saham.

Baca Juga: Alamtri Minerals (ADMR) Catat Kenaikan Pendapatan dan Laba pada Semester I-2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News