Cetak Untung Perdana, Harga Saham GOTO Melejit 3,7%, Simak Target harga Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) untuk pertama kalinya berhasil mencetak laba bersih. Per Maret 2026, GOTO membukukan laba bersih periode berjalan sebesar Rp 171 miliar. 

Pencapaian tersebut ditopang oleh pendapatan bersih GOTO yang melonjak 26% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 5,34 triliun di kuartal I-2026 dari Rp 4,23 triliun. 

Dua mesin utama GOTO, yakni on demand services (ODS) atau Gojek serta financial technology (fintech) yang menaungi brand GoPay mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan  laba. 


Pendapatan bersih fintech naik 58% yoy menjadi Rp1,9 triliun. Pertumbuhan pesat ini ditopang oleh skala bisnis pembayaran dan pinjaman yang semakin berkembang. 

Aplikasi GoPay bahkan turut mendorong peningkatan volume transaksi yang signifikan. Volume transaksi tembus 2 miliar pada kuartal pertama tahun 2026 atau naik 84% yoy. Jumlah pengguna bertransaksi bulanan juga tembus 27,5 juta atau naik 33% yoy. 

Peningkatan jumlah pengguna tersebut juga turut mendorong nilai buku pinjaman GOTO. Hingga akhir Maret 2026, nilai buku pinjaman GOTO tembus Rp9,9 triliun atau mengalami kenaikan 59% yoy. Hal ini mendorong EBITDA yang disesuaikan Fintech mencapai Rp 364 miliar atau naik 674% yoy. 

Beralih ke ODS, pendapatan unit bisnis ini tumbuh 12% yoy mencapai Rp 3,4 triliun. EBITDA yang disesuaikan mencapai Rp 439 miliar atau naik 40% yoy. Pertumbuhan pendapatan sekaligus profitabilitas ODS juga ditopang oleh kinerja segmen menengah atas (affluent). 

Baca Juga: GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) Bakal Rilis Kinerja, Begini Proyeksi Analis

EBITDA Grup yang disesuaikan mencapai Rp 907 miliar selama periode Januari–Maret 2026. Melonjak 131% secara tahunan dan masih sejalan dengan target yang dicanangkan GOTO. 

Direktur Utama Grup GoTo, Hans Patuwo menjelaskan pencapaian di kuartal satu ini mencerminkan kerja keras tim selama bertahun-tahun dalam mendorong pertumbuhan pendapatan hingga mengelola biaya secara disiplin. 

“Kami berada dalam posisi yang baik untuk menghadapi situasi global saat ini dan percaya GoTo dapat tetap memberikan layanan terbaik,” jelasnya dalam keterangan resmi, Selasa (28/4). 

Simon Ho, Direktur Keuangan Grup GoTo menambahkan pencapaian di tiga bulan pertama pada 2026 ini mencerminkan operating leverage yang kini tertanam secara struktural dalam bisnis GOTO. 

“Biaya layanan kami juga menurun seiring dengan strategi teknologi dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kami yang mulai membuahkan hasil,” katanya. 

Simon bilang, GOTO memasuki sisa tahun 2026 dengan arus kas bebas yang disesuaikan positif dan neraca keuangan yang kuat. Ini menegaskan kembali pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk setahun penuh sebesar Rp 3,2 triliun–Rp 3,4 triliun. 

"Kami tetap mempertahankan pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan  untuk setahun penuh di angka Rp 3,2 triliun–Rp 3,4 triliun, meskipun mencatatkan kinerja yang kuat pada kuartal pertama 2026,” ucapnya. 

Setelah melaporkan kinerja keuangan solid kuartal I 2026, harga saham GOTO melonjak. Pada penutupan Kamis (29/4), harga saham GOTO melejit 3,77% dibanding sebelumnya. Tutup di Rp 55 per saham. 

Beberapa analis dari sekuritas  okal seperti BRI Danareksa Sekuritas dan Indo Premier Sekuritas menyematkan rekomendasi beli saham GOTO dengan target harga Rp 80 dan Rp110. 

Beberapa analis dari sekuritas asing seperti UBS dan Jefferies juga memberikan rekomendasi beli. Citi menyematkan target harga Rp 80 dan UBS di harga Rp 100. 

Research Analyst Deutsche Bank, Peter Milliken menargetkan harga Rp 95. Lalu target analis Ciptadana Sekuritas Asia, Christopher Rusli Rp 100 dan Analis OCBC Sekuritas, Gani memberikan target  Rp 110 per saham (OCBC Sekuritas)

Ryan Winipta dalam riset terbarunya menetapkan target harga GOTO tidak berubah di Rp110. “Rating buy kami didukung oleh peningkatan berkelanjutan dalam EBITDA yang disesuaikan dan jalur yang lebih kuat menuju profitabilitas.” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News