Champion Pacific (IGAR): Permintaan packaging berpeluang naik, namun harga stagnan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produsen flexible packaging PT Champion Pacific Indonesia Tbk (IGAR) masih terus mengupayakan agar dapat bertumbuh di tahun 2019 . Hanya saja kurs dollar Amerika Serikat (AS) yang fluktuatif dan telatnya pembayaran obat mempengaruhi bisnis perusahaan.

Antonius Muhartoyo, Direktur Utama PT Champion Pacific Indonesia Tbk mengatakan secara umum bisnis flexible packaging di 2019 dari sisi volume penjualan berpeluang meningkat, namun harga produk cenderung stagnan. "Kalau dari volume bisa naik 5%-8% tiap tahunnya," ujarnya kepada Kontan.co.id, Minggu (6/1).

Hanya saja terkait harga yang stagnan tak lain disebabkan oleh beberapa pesanan didapat dari kontrak dengan waktu tertentu sehingga tidak mungkin asal menaikkan harga, sementara harga bahan baku yang dibeli dalam dollar AS terus melonjak. Untuk mengantisipasi bahan baku yang mahal, menurut Antonius perusahaan mencari subtitusi untuk bahan laminasi dari aluminium biasa.


"Harganya lebih murah namun tidak mengurangi kualitas obat," katanya. 

Mengintip laporan keuangan perusahaan sampai kuartal III-2018, pembelian bahan baku terbesar diperoleh dari PT Alumindo Light Metal Industry Tbk senilai Rp 61,85 miliar, serta CNBM International Corporation sebesar Rp 60,25 miliar.

Sampai kuartal III-2018 beban produksi naik hingga 8% year on year (yoy) menjadi Rp 524 miliar, dimana pada tahun sebelumnya hanya Rp 485 miliar. Melonjaknya harga bahan baku diiringi pula oleh pembayaran telatnya pembayaran kemasan obat oleh produsen farmasi yang menjadi pelanggan perusahaan.

Antonius belum bisa membeberkan hal tersebut secara rinci, yang jelas segmen kemasan farmasi menjadi tulang punggung bisnis perusahaan dengan kontribusi 87% dari total pendapatan di kuartal III-2018, atau senilai Rp 519 miliar. Sedangkan sisanya berasal dari segmen non-farmasi sebesar Rp 75 miliar.

Untuk pengembangan bisnis ke depan, Antonius mengaku perusahaan belum akan melakukan ekspansi besar-besaran. Yang terbaru, IGAR membeli mesin produksi dengan kemampuan pencetakan 10 varian warna.

Nilai pembelian mesin saja sekitar Rp 34 miliar, dan telah dilakukan tahap percobaan produksi. Dengan mesin baru ini perusahaan berharap dapat menjajal pasar ekspor.

"Kami akan coba ekspor ke negara-negara Asean. Jenis packagingnya tetap di segmen obat," terang Antonius. Berapa besaran porsi ekspor tersebut, ia belum dapat membeberkannya saat ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi