KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), mengumumkan telah menandatangani
Conditional Sales and Purchase Agreement (CSPA) untuk mengakuisisi bisnis otomotif
Cycle & Carriage di Singapura dan Malaysia. Direktur Sumber Daya Manusia & Urusan Korporat Chandra Asri Group Suryandi, mengatakan untuk nilai transaksi,
estimated purchase price atas aset yang menjadi bagian dari transaksi diperkirakan sebesar 265 juta dolar Singapura atau sekitar US$ 207 juta. Suryandi menyampaikan strategi Chandra Asri Group saat ini telah berkembang melampaui bisnis di bidang energi, kimia, dan infrastruktur. Seiring dengan upaya membangun platform regional, TPIA terus memperluas bisnis ke sektor-sektor yang dapat melengkapi dan memperkuat portofolio yang telah dimiliki saat ini, sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi Grup.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat pada Jumat (21/8), Cek Proyeksi Pekan Depan "Sektor mobilitas menjadi salah satu fokus pengembangan kami ke depan," kata Suryandi kepada Kontan, Jumat (21/8/2026). TPIA telah memiliki fondasi yang kuat di Singapura melalui jaringan ritel bahan bakar bermerek Esso. Akuisisi Cycle & Carriage ini akan melengkapi ekosistem tersebut dengan bisnis otomotif yang telah mapan, mulai dari distribusi otomotif, dealer, hingga layanan purnajual, leasing, serta kendaraan komersial di Singapura dan Malaysia. "Oleh karena itu, langkah ini bukan sekadar ekspansi ke bisnis baru, melainkan sebagai upaya membangun ekosistem energi dan transportasi yang lebih terintegrasi di Asia Tenggara," ujar Suryandi.
Prospek TPIA di Tengah Rencana Akuisisi Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengungkapkan rencana akuisisi bisnis otomotif Cycle & Carriage di Singapura dan Malaysia positif secara strategis, terutama untuk diversifikasi
recurring income dan memperkuat ekspansi regional TPIA. Bisnis dealer,
aftersales, leasing, serta kendaraan listrik (EV) berpotensi memberikan
earnings yang lebih defensif dibanding bisnis petrokimia yang sangat bergantung pada siklus dan
spread. Namun, dampak terhadap laba dalam jangka pendek kemungkinan masih terbatas karena nilai transaksi sekitar US$ 207 juta relatif kecil dibanding skala TPIA. "Menurut kami,
value creation akan lebih terlihat dalam 2-3 tahun ke depan jika TPIA mampu menciptakan sinergi dengan bisnis energi dan
infrastructure yang sudah dimiliki," ucap Sukarno. Dari sisi sentimen, Sukarno melihat diversifikasi earnings, penguatan
regional footprint, dan
exposure terhadap pertumbuhan EV sebagai katalis positif. Di sisi lain, investor perlu mencermati potensi kenaikan
leverage, margin bisnis otomotif yang relatif tipis, serta
execution dan
integration risk. "Yang paling penting, akuisisi ini perlu menghasilkan
Return on Invested Capital di atas
cost of capital, bukan sekadar menamba
h revenue dan aset," ujar Sukarno. Adapun Analis sekaligus
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama melihat dari sisi prospek, akuisisi ini menarik karena sifatnya
bolt-on acquisition dan melengkapi bisnis TPIA yang sudah ada di Singapura, terutama jaringan SPBU Esso. "Jadi ada potensi integrasi dalam ekosistem
mobility, energi, dan retail," tambah Elandry. Selain itu, pembiayaan transaksi didukung Bank Mizuho sehingga tidak seluruh kebutuhan dana harus berasal dari
internal cash. Namun untuk kinerja keuangan, dampaknya kemungkinan lebih bertahap dan tidak langsung material terhadap laba konsolidasi TPIA. Investor tetap perlu melihat kontribusi EBITDA, cash flow, serta kemampuan TPIA melakukan integrasi aset tersebut.
Apalagi TPIA saat ini juga sedang menjalankan sejumlah proyek besar, sehingga disiplin penggunaan modal tetap menjadi perhatian. Adapun untuk rekomendasi saham, Sukarno menyarankan
buy saham TPIA dengan target harga Rp 2.430 per saham.
Baca Juga: Bach Multi Global (BACH) Komitmen Jaga Kinerja Hingga 2030, Begini Strateginya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News