Chandra Asri (TPIA) Memacu Utilisasi Hingga 95% di tengah Lonjakan Kapasitas Produksi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengerek naik skala bisnis dan kapasitas produksi melalui akuisisi dan ekspansi organik. Tak hanya mendongkrak kapasitas produksi, TPIA bakal mengoptimalkan tingkat utilisasi pada level 90% - 95%.

Direktur Sumber Daya Manusia & Urusan Korporat Chandra Asri Pacific, Suryandi membeberkan pertumbuhan kapasitas produksi TPIA melesat dalam dua tahun terakhir, terutama didorong oleh akuisisi Aster Chemicals and Energy di Singapura. Fasilitas refinery Aster menambah kapasitas Chandra Asri Group dalam memproduksi berbagai jenis produk petrokimia.

Total kapasitas produksi TPIA melonjak dari 4,23 juta ton pada tahun 2024 menjadi 17,6 juta ton per tahun hingga akhir 2025. Tak berhenti di sini, TPIA masih menggelar ekspansi sehingga total kapasitas produksi diproyeksikan menembus level 21,15 juta ton pada tahun 2027.


Baca Juga: Agung Podomoro Gaspol Tahap II Kota Kertabumi, Unit Avisha Jadi Andalan

Kapasitas produksi TPIA tahun depan terutama akan terdongkrak oleh Pabrik Chlor Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon, Banten. Proyek dengan nilai investasi sekitar Rp 15 triliun ini telah mencapai progres 56%.

"Harapannya di akhir tahun ini selesai, sehingga bisa mulai beroperasi pada awal (kuartal pertama) 2027," kata Suryandi dalam Diskusi Media yang berlangsung pada Selasa (24/2/2026).

Suryandi mengatakan bahwa permintaan produk petrokimia di Indonesia masih tinggi, dengan proyeksi rata-rata pertumbuhan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sekitar 5% hingga tahun 2038. Di sisi lain, kehadiran pabrik CA-EDC akan mengurangi ketergantungan impor sekaligus membuka peluang perluasan ekspor.

Suryandi menjelaskan bahwa saat ini mayoritas produk yang dihasilkan oleh TPIA dipasok untuk pasar domestik, sementara porsi ekspor hanya sekitar 5% - 10%. Guna menangkap peluang pertumbuhan pasar, terutama permintaan dari dalam negeri, TPIA akan mengoptimalkan tingkat utilisasi.

Suryandi menggambarkan pada tahun lalu, rata-rata utilisasi TPIA berada di level 80%. Sedangkan untuk tahun ini, TPIA menargetkan tingkat utilisasi produksi bisa lebih optimal di level 90% - 95%. "Harapannya seperti itu. Kami memang harus jalan begitu (mengoptimalkan utilisasi) karena permintaan masih tinggi," ujar Suryandi.

Secara operasional, fokus TPIA tahun ini adalah menjaga keandalan operasional di pabrik. Hal ini penting lantaran akan berdampak terhadap pendapatan dan kepercayaan konsumen. Suryandi memberikan gambaran apabila satu hari pabrik di Cilegon mengalami gangguan dan berhenti beroperasi, maka ada potensi revenue loss hingga US$ 3 juta.

Oleh sebab itu, pada awal tahun ini TPIA melaksanakan pemeliharaan terjadwal (Turnaround Maintenance) di fasilitas pabrik petrokimia yang berlokasi di Cilegon. "Sudah mulai Januari, dan diharapkan Februari akhir selesai. Ini untuk memastikan mesin-mesin yang ada selama tahun 2026-2027 atau mungkin 3-4 tahun ke mendatang tidak ada masalah," ujar Suryandi.

Tantangan Bisnis dan Prospek Kinerja

Memasuki tahun 2026, Suryandi mengakui bisnis inti TPIA di industri kimia masih dibayangi sejumlah tantangan, terutama dari faktor eksternal. Meliputi dinamika geopolitik, volatilitas harga komoditas, kondisi oversupply global, serta persaingan secara global maupun dengan produk impor.

Kondisi ini menjadi tantangan bagi TPIA untuk meraih margin yang optimal. Meski begitu, Direktur Legal dan Hubungan Eksternal Chandra Asri Pasific, Edi Riva'i meyakini TPIA bisa memiliki prospek kinerja yang lebih baik pada tahun ini.

Katalis positif datang pengendalian produk impor oleh pemerintah. Melalui asosiasi, para pelaku industri kimia mendorong adanya trade remedies berupa antidumping dan safeguard. Pasalnya, selama ini industri kimia dalam negeri merasakan unfair trade dari limpahan produk impor yang mengalami oversupply di negaranya.

Edi berharap langkah proteksi dari pemerintah bisa membuat kompetisi yang lebih sehat dengan produk impor, sehingga pelaku industri bisa mendapatkan harga dan margin yang lebih baik. "Semoga dapat segera diterapkan. Kalau itu selesai, harga akan normal lagi," kata Edi.

Di sisi lain, TPIA juga menggelar sejumlah strategi untuk meredam volatilitas di industri kimia. Adapun, saat ini TPIA bertumpu pada tiga lini usaha, yakni energi, kimia dan infrastruktur. Salah satu strategi TPIA adalah memacu pendapatan dari segmen bisnis yang lebih stabil, yakni infrastruktur. 

Pada tahun ini, TPIA melalui PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) berencana kembali menambah satu atau dua unit armada. Selain itu, TPIA juga masuk ke bisnis ritel bahan bakar melalui jaringan Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) merek Esso di Singapura, yang akuisisinya efektif per 1 Januari 2026.

Baca Juga: Solusi Sinergi Digital (WIFI) Bidik Pertumbuhan Agresif 2026, Begini Strateginya

Selanjutnya: Trump Klaim “Zaman Keemasan Amerika” di Pidato Kenegaraan, Ekonomi Jadi Sorotan

Menarik Dibaca: Promo Alfamart Kebutuhan Dapur 16-28 Februari 2026, Bumbu-Kornet Diskon hingga 50%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News