Chandra Asri (TPIA) Mulai Lagi Buyback Saham Rp 2 Triliun, Begini Prospek Sahamnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) memulai kembali pembelian kembali alias buyback saham dengan dana maksimal Rp 2 triliun pada hari ini, Kamis (29/10/2026).

Biaya buyback itu, dari kas internal secara bertahap, termasuk biaya transaksi pembelian kembali saham, komisi broker, dan biaya lain-lain. Periode buyback ini akan berakhir pada 28 Januari 2027. 

Dalam aksi korporasi ini, emiten Prajogo Pangestu tersebut berencana membeli kembali maksimal 1,6 miliar saham yang beredar di pasar, atau setara dengan 1,84% dari total saham. Buyback akan dilakukan dengan harga setinggi-tingginya Rp 3.000 per saham.


Baca Juga: Laba AKRA Berpotensi Tumbuh 20% pada 2026, Ini Prospek dan Tantangannya

“Jumlah maksimum saham yang dapat dibeli kembali tetap akan memperhatikan jumlah saham free float perusahaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ujar manajemen TPIA dikutip dari keterbukaan informasi BEI, Kamis (29/10/2026).

Tujuan buyback tersebut adalah untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham, memperbaiki kinerja saham agar sejalan dengan kondisi fundamental perusahaan, serta menjaga kepercayaan publik.

Manajemen TPIA juga berkeyakinan bahwa buyback saham tak akan memberikan pengaruh negatif terhadap kinerja, pendapatan, dan pembiayaan perusahaan. Sebab, TPIA memiliki arus kas yang memadai untuk membiayai kegiatan usaha, belanja modal, dan pembelian kembali saham.

Sebelumnya, pada 19 Oktober 2026, TPIA mengumumkan rencana buyback saham dengan anggaran maksimal Rp 1 triliun. 

Awalnya, jumlah saham yang akan dibeli kembali mencapai 0,92% atau sebesar 800 juta saham selama 19 Oktober hingga 31 Desember 2026. Buyback saham akan dilakukan dengan harga serendah-rendahnya Rp 1.250 dan setinggi-tingginya Rp 3.000 per saham

Semula, TPIA menunjuk PT Henan Putihrai Sekuritas untuk mengeksekusi buyback saham yang dihentikan pada 28 Oktober itu. Lalu, pada aksi buyback terbaru, TPIA menunjuk PT BCA Sekuritas untuk mengeksekusi buyback sahamnya.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan, langkah TPIA menghentikan program buyback lama pada 28 Oktober dan langsung meluncurkan alokasi baru senilai Rp 2 triliun hingga 31 Desember 2026 merupakan respons defensif-proaktif yang strategis.

Baca Juga: APLN Cetak Laba Rp 216,39 Miliar, Berbalik dari Rugi pada Kuartal III-2026

Keputusan ini dinilai mencerminkan komitmen kuat manajemen untuk memberikan proteksi nilai dan sinyal kepercayaan (value signaling) kepada pasar bahwa harga saham TPIA saat ini sudah berada di bawah nilai fundamentalnya (undervalued). 

“Menjaga stabilitas harga saham perusahaan berkapitalisasi pasar besar di tengah fluktuasi IHSG dan tekanan arus modal keluar (capital outflow) memang memerlukan komitmen dana yang signifikan,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (29/10/2026).

Menurut Nafan, alokasi Rp 2 triliun ini bertindak sebagai standby buyer yang efektif menahan tekanan jual jangka pendek. Aksi itu pun seharusnya bisa menciptakan batas bawah (support point) yang kokoh, sekaligus meningkatkan nilai Earnings Per Share (EPS) secara matematis melalui pengurangan jumlah saham beredar. 

“Meskipun pengeluaran kas ini mengurangi likuiditas internal, risikonya tetap terukur selama rasio utang dan arus kas operasional perseroan terjaga dengan baik,” ungkapnya.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie memandang, penambahan alokasi buyback itu bisa dilihat sebagai upaya manajemen menstabilkan harga saham dan menjaga kepercayaan investor di tengah tekanan harga yang cukup dalam sepanjang tahun ini.

Hal tersebut pun sejalan dengan tujuan yang disampaikan perseroan, yaitu meningkatkan nilai bagi pemegang saham dan menjaga stabilitas harga.

Baca Juga: Bitcoin Sulit Bangkit, Ini Proyeksi dan Strategi Investasi hingga Akhir 2026

“Namun, dampaknya cenderung jangka pendek dan terbatas, karena arah harga tetap ditentukan oleh fundamental petrokimia dan sentimen pasar,” ujarnya kepad Kontan, Kamis (29/10/2026).

Memasuki sisa tahun 2026 hingga 2027, prospek operasional dan saham TPIA diproyeksikan akan mengalami transisi secara bertahap menuju pemulihan.

Nafan melihat, pada sisa tahun 2026, kinerja TPIA masih dibayangi oleh tantangan margin petrokimia akibat fluktuasi harga bahan baku (naphtha), pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), serta dinamika pemulihan industri manufaktur hilir. 

“Namun, memasuki tahun 2027, kinerja operasional berpotensi membaik seiring dengan pemulihan siklus industri petrokimia regional, realisasi hasil diversifikasi bisnis TPIA ke sektor infrastruktur, serta energi yang memberikan arus kas lebih stabil,” ungkapnya.

Adrian berpandangan, kinerja operasional TPIA ke depan ditopang oleh prospek energi dan petrokimia yang terintegrasi, termasuk konsolidasi Aster, dengan struktur pendapatan berbasis dolar AS. “Namun di kondisi saat ini, kinerja harga saham masih berpotensi tertekan,” tuturnya.

Alhasil, Adrian masih merekomendasikan wait and see untuk TPIA, mengingat kondisi pasar yang belum mendukung.

Baca Juga: Gojek Tokopedia (GOTO) Naikkan Target EBITDA 2026 Hingga Rp 3,7 Triliun

Sedangkan, Nafan merekomendasikan add untuk TPIA dengan target harga Rp 2.250 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News