China: AI Bukan Monopoli Negara Besar, AS Diminta Kelola Risiko Bersama



KONTAN.CO.ID - China menyerukan Amerika Serikat (AS) untuk bekerja sama dalam mengelola risiko kecerdasan buatan (AI).

Beijing menilai teknologi AI bukan "monopoli negara-negara besar" dan seharusnya dikembangkan dalam lingkungan yang terbuka serta tidak diskriminatif.

Seruan tersebut disampaikan melalui komentar di surat kabar resmi Partai Komunis China, People's Daily, pada Rabu (16/9/2026).


Baca Juga: Senat AS Gagal Mengesahkan RUU Kripto, Bitcoin dan Saham Kripto Tertekan

China dan AS saat ini merupakan dua kekuatan utama dalam pengembangan AI frontier dan adopsi teknologi tersebut secara global.

"Artificial intelligence adalah bidang baru dalam perkembangan manusia, bukan monopoli negara-negara besar, dan tidak boleh menjadi arena persaingan zero-sum," tulis People's Daily dalam komentar yang menggunakan nama pena "Zhong Sheng", yang berarti "Suara China" dan kerap digunakan untuk menyampaikan pandangan terkait kebijakan luar negeri.

Hubungan China dan AS terkait AI tengah menjadi perhatian menjelang pembicaraan bilateral yang dijadwalkan berlangsung pekan depan. Kedua negara masih berselisih mengenai kebijakan dan praktik industri AI.

Gedung Putih sebelumnya menuduh China melakukan pencurian kekayaan intelektual laboratorium AI AS dalam skala besar.

China membantah pendekatan tersebut dan mengatakan pihaknya mendorong pengembangan AI secara terbuka, termasuk dengan menyediakan akses terhadap model open source bagi perusahaan, termasuk perusahaan AS.

Baca Juga: Impor Jepang Agustus Melonjak, Harga Minyak Dorong Biaya Energi

China soroti praktik distillation

People's Daily juga menyoroti praktik AI distillation, yakni proses melatih model AI yang lebih kecil menggunakan keluaran dari model yang lebih besar untuk menekan biaya pengembangan teknologi AI baru.

Menurut media tersebut, sejumlah laporan menunjukkan perusahaan-perusahaan AS menggunakan teknik distillation terhadap model AI China.

"Menurut logika AS, ketika perusahaan Amerika menggunakan distillation, hal itu disebut sebagai praktik standar industri, sementara ketika perusahaan China menerapkannya, hal itu dianggap sebagai serangan. Ini adalah standar ganda yang terang-terangan," tulis People's Daily.

China menilai, menjadikan praktik yang disebut sebagai standar industri tersebut sebagai persoalan keamanan nasional dapat menjadi cara bagi AS untuk mempertahankan dominasi industri AI dengan alasan mencegah distillation.

Baca Juga: Bursa Asia Dibuka Gugup Rabu (16/9) Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed

Meski demikian, Beijing menyatakan tetap terbuka untuk berdiskusi dengan Washington.

China mengatakan bersedia terlibat dalam pembicaraan yang "konstruktif dan profesional" dengan AS guna mendorong pengembangan AI yang terbuka, inklusif, universal dan memberikan manfaat luas.