China Blokir Akuisisi Robotika US$ 5,4 Miliar, SoftBank dan ABB Cari Jalan Keluar



KONTAN.CO.ID - TOKYO. Perusahaan teknologi asal Jepang, SoftBank, dan perusahaan teknik asal Swiss, ABB, tengah mempertimbangkan pemisahan bisnis mereka di China dalam kesepakatan akuisisi bisnis robotika senilai US$ 5,4 miliar atau sekitar Rp 87 triliun. Langkah ini dipertimbangkan setelah pemerintah China memblokir kesepakatan tersebut pada awal pekan ini.

Laporan Bloomberg News pada Sabtu (7/11/2026), yang mengutip sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut, menyebutkan kedua perusahaan sedang menjajaki kemungkinan memisahkan bisnis China dari kesepakatan utama.

Pemisahan tersebut akan dilakukan dengan membentuk entitas perusahaan tersendiri untuk bisnis di China dengan struktur kepemilikan yang berbeda.


Baca Juga: Ibukota India Jadi Kota Paling Tercemar di Dunia, AQI Capai 581

SoftBank belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar di luar jam kerja. Sementara itu, ABB menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut.

Pemblokiran kesepakatan ini menjadi transaksi kedua yang digagalkan China sepanjang tahun ini. Sebelumnya, pada April, Meta diperintahkan untuk membatalkan akuisisi perusahaan rintisan kecerdasan buatan (AI), Manus, yang nilainya mencapai lebih dari 2 miliar dolar AS.

Langkah tersebut terjadi ketika Beijing semakin memperketat pengawasan terhadap investasi asing yang melibatkan teknologi mutakhir.

Selain mempertimbangkan pemisahan bisnis China, ABB juga menjajaki sejumlah pilihan lain, termasuk mencari pembeli baru untuk bisnis robotikanya.

Menurut laporan Bloomberg, bisnis tersebut berpotensi memiliki nilai sekitar US$ 2 miliar hingga US$ 3 miliar.

China merupakan pasar robotika terbesar bagi ABB dan menyumbang sekitar 30% dari total bisnis robotika perusahaan tersebut.

ABB mengoperasikan sekitar 30 perusahaan lokal di China dengan jumlah karyawan sekitar 15.000 orang yang tersebar di hampir 130 kota.

Perusahaan tersebut juga memiliki jaringan distribusi daring dan luring yang menjangkau hampir 700 lokasi di negara itu.

Baca Juga: Raja Malaysia Tegaskan Perintah Tahanan Rumah Najib Razak Tidak Boleh Ditentang