KONTAN.CO.ID - Pemerintah China diperkirakan akan menetapkan target pertumbuhan ekonomi resmi pada 2026 di kisaran 4,5% hingga 5%. Laporan South China Morning Post (SCMP) pada Jumat (23/1/2026) menyebutkan, target tersebut mencerminkan tantangan perlambatan ekonomi global yang tetap membayangi, meskipun China membukukan surplus perdagangan besar senilai US$1,2 triliun. Ekonomi China yang bernilai sekitar US$19 triliun tercatat tumbuh 5,0% pada 2025, sesuai target pemerintah.
Baca Juga: Ringgit Malaysia Menguat di Tengah Pergerakan Terbatas Mata Uang Asia Capaian ini diraih di tengah tekanan dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang kembali berupaya menahan laju ekonomi China. Untuk menjaga pertumbuhan, China meningkatkan ekspor ke berbagai pasar guna menutupi lemahnya konsumsi domestik, strategi yang menurut ekonom akan semakin sulit dipertahankan. Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global bertahan di level 3,3% pada 2026, sama seperti 2025, sebelum turun satu poin persentase pada 2027. Kondisi ini membuat eksportir China berpotensi harus menerima harga yang semakin rendah jika ingin mempertahankan volume ekspor yang mencetak rekor. Dengan latar tersebut, para pembuat kebijakan China berada di bawah tekanan untuk menata ulang mesin manufaktur negara itu menuju pemulihan pascapandemi yang lebih berkelanjutan.
Baca Juga: TikTok Selamat dari Ancaman Ban, ByteDance Setuju Bentuk Joint Venture AS Fokus diarahkan pada model pertumbuhan yang lebih seimbang dan tangguh, dengan menggerakkan potensi populasi 1,4 miliar penduduk, guna menghindari risiko stagnasi berkepanjangan ala Jepang. Risikonya, China bisa mulai merasakan kondisi ekonomi yang menyerupai resesi, meskipun angka pertumbuhan resmi masih jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara maju lainnya. Sejumlah ekonom bahkan memperkirakan ekonomi China hanya tumbuh 2,5% hingga 3% pada tahun lalu. Estimasi tersebut menunjukkan adanya kekurangan output sekitar US$500 miliar.
Baca Juga: Bursa Asia Menguat Tipis Jumat (23/1), Jelang Keputusan Suku Bunga Bank of Japan Lembaga riset Rhodium Group menilai pelemahan ini dipicu oleh penurunan tajam investasi aset tetap seiring melemahnya permintaan domestik pada paruh kedua tahun lalu. “Target tersebut menunjukkan toleransi terhadap perlambatan moderat, seiring Beijing menekankan pentingnya pembangunan berkualitas tinggi,” ujar tiga sumber yang dikutip oleh media berbasis di Hong Kong tersebut.