China Ekspansi Bangun Pusat Konversi Batubara Jadi Minyak dan Petrokimia



KONTAN.CO.ID - HOHHOT.  Wilayah penghasil batu bara terbesar di China, Inner Mongolia, berencana membangun pusat konversi batu bara menjadi minyak, gas, dan bahan kimia terbesar di negara tersebut. Langkah ini diambil untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap ketergantungan impor, terutama setelah dinamika konflik Iran yang kembali menyoroti pentingnya keamanan pasokan energi bagi China.

Di saat yang sama, Inner Mongolia juga dikenal sebagai salah satu wilayah dengan produksi energi terbarukan terbesar di China, menjadikannya gambaran kecil dari kompleksnya transisi energi negara tersebut. Di satu sisi wilayah ini memiliki cadangan batu bara yang melimpah, namun di sisi lain masih sangat bergantung pada impor minyak dan gas dari luar negeri.

Proyek konversi batu bara menjadi produk minyak dan petrokimia ini sebenarnya bukan hal baru di China, namun skalanya terus diperbesar. Pemerintah daerah menyebutkan bahwa mereka akan memperkuat kapasitas produksi dalam negeri untuk proyek coal-to-oil, coal-to-gas, dan coal-to-chemicals guna meningkatkan kemandirian energi. Wakil pejabat utama wilayah tersebut, Huang Zhiqiang, menyampaikan dalam konferensi pers bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi memperkuat produksi energi domestik, meski ia tidak merinci detail tambahan.


Baca Juga: Defisit Anggaran India Membengkak, Harga Energi Picu Beban Baru

Meski demikian, kontribusi industri ini terhadap kebutuhan energi nasional masih relatif kecil dibandingkan besarnya impor China. Pada 2024, produksi gas, cairan, dan bahan kimia dari batu bara hanya mampu menggantikan sekitar 6% dari impor minyak mentah dan gas yang masuk ke China.

Namun, pertumbuhan sektor ini terus berlanjut. Pada Mei lalu, Kementerian Lingkungan China menyetujui pembangunan proyek demonstrasi senilai sekitar 22,1 miliar yuan atau setara US$ 3,3 miliar di kota Ordos. Proyek tersebut ditargetkan mampu memproduksi 800.000 ton olefin per tahun, yakni bahan dasar penting untuk industri plastik dan kimia.

Seiring meningkatnya harga dan ketegangan geopolitik, keuntungan industri petrokimia berbasis batu bara juga dilaporkan melonjak. Penggunaan batu bara domestik yang relatif lebih murah membuatnya lebih kompetitif dibandingkan produsen petrokimia lain yang bergantung pada minyak sebagai bahan baku.

Namun, ekspansi ini juga memunculkan kekhawatiran serius terkait emisi karbon. Proses konversi batu bara menjadi bahan bakar cair dan kimia dikenal sebagai salah satu sumber emisi yang besar, sehingga berpotensi menambah tekanan terhadap target iklim China. Pemerintah daerah menyebut mereka tetap berupaya menyeimbangkan pemanfaatan cadangan batu bara dengan pengembangan energi terbarukan yang kini telah mencapai sekitar 53% dari total kapasitas terpasang di wilayah tersebut.

Selain itu, dokumen pemerintah juga menunjukkan rencana penggunaan hidrogen hijau dalam proyek coal-to-chemicals sebagai upaya mengurangi dampak lingkungan. Namun, sejumlah pemerhati energi bersih mengingatkan bahwa langkah tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk memperluas ketergantungan pada batu bara.

Saat ini, Inner Mongolia memproduksi sekitar 1,25 miliar hingga 1,28 miliar ton batu bara setiap tahun, atau lebih dari seperempat total produksi China. Sekitar dua pertiganya berasal dari Ordos, yang juga menjadi lokasi utama pengembangan basis industri konversi batu bara ke petrokimia tersebut.