KONTAN.CO.ID - Taiwan meningkatkan pemantauan terhadap serangkaian latihan tembak langsung militer China yang berlangsung di sejumlah wilayah pesisir negara tersebut sepanjang pekan ini. Latihan itu terdeteksi di beberapa kawasan, mulai dari Laut China Selatan hingga Provinsi Liaoning di China bagian timur laut. Menteri Pertahanan Taiwan Wellington Koo mengatakan, militer Taiwan terus memantau aktivitas tersebut untuk mengantisipasi kemungkinan perkembangan situasi keamanan di kawasan.
Baca Juga: Won Korea Selatan Tembus Level Tertinggi 2 Tahun Senin (12/10), Rupiah Menguat Tipis Mengutip
Reuters, Senin (12/10/2026), Administrasi Keselamatan Maritim China sejak Kamis mengumumkan pemberitahuan larangan pelayaran di lima wilayah. Meski mencakup area dari Laut China Selatan hingga Liaoning, tidak ada zona latihan yang diumumkan berada tepat di sekitar Taiwan. Wilayah latihan yang paling dekat dengan Taiwan terletak di perairan lepas Provinsi Zhejiang, China bagian timur. Berdasarkan pemberitahuan tersebut, latihan dijadwalkan berlangsung sepanjang pekan ini. Koo mengatakan, penilaian awal Taiwan menunjukkan aktivitas tersebut kemungkinan merupakan latihan penembakan artileri pantai dan unit terkait. Namun, militer Taiwan akan tetap mengawasi seluruh kegiatan militer China. "Kami berpegang pada prinsip mengantisipasi kemungkinan ancaman musuh seluas mungkin. Karena itu, kami akan terus memantau aktivitas mereka secara ketat, baik latihan menembak maupun latihan militer lainnya," kata Koo kepada wartawan di parlemen.
Baca Juga: Biaya Pengiriman Minyak AS ke China Turun dari Rekor Tertinggi Perkembangan ini terjadi setelah Presiden Taiwan Lai Ching-te menyampaikan pidato pada peringatan Hari Nasional Taiwan, Sabtu (10/10/2026). Dalam pidato tersebut, Lai menegaskan Taiwan menghargai perdamaian, tetapi tidak akan menyerahkan kebebasannya. Ia juga menyatakan hak rakyat Taiwan untuk tetap eksis harus dihormati. China mengecam pernyataan tersebut. Beijing menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan menyebut Lai sebagai tokoh separatis. Pemerintah China juga menolak tawaran dialog yang berulang kali disampaikan Lai. Meski China belum mengaitkan secara langsung latihan militer pekan ini dengan pidato Lai, Kementerian Pertahanan China pada Minggu menuduh pemimpin Taiwan itu membesar-besarkan ancaman dari Beijing dan berupaya mengejar kemerdekaan melalui kekuatan militer. Dalam pernyataannya, kementerian tersebut menyebut latihan rutin Tentara Pembebasan Rakyat China di sekitar Taiwan bertujuan mencegah langkah menuju kemerdekaan Taiwan dan campur tangan pihak luar, sekaligus menjaga keamanan serta kesejahteraan masyarakat Taiwan.
Baca Juga: Korea Utara Luncurkan Sejumlah Rudal Balistik, Ketegangan dengan Seoul Meningkat Militer China diketahui beroperasi di sekitar Taiwan hampir setiap hari. Namun, China belum menggelar latihan perang skala besar sejak akhir Desember lalu. Latihan saat itu digelar sebagai respons terhadap pengumuman penjualan senjata senilai US$ 11 miliar oleh Amerika Serikat kepada Taiwan, yang menjadi paket penjualan senjata terbesar Washington untuk pulau tersebut. Di sisi lain, Lai menegaskan hanya rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan mereka. Ia juga menyatakan Beijing tidak memiliki hak untuk mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayah China.