KONTAN.CO.ID – JAKARTA. China mempercepat upaya mengurangi ketergantungan pada kedelai impor dengan mendorong penggunaan pakan fermentasi di sektor peternakan. Langkah ini tidak hanya bertujuan menekan biaya produksi, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah ketegangan perdagangan global. Di kawasan Taizhou, sekitar dua jam perjalanan dari Shanghai, para peternak babi mulai memanfaatkan teknologi sederhana berupa fermentasi bahan pakan lokal. Campuran dedak, limbah pertanian, hingga sisa produksi anggur difermentasi untuk meningkatkan kecernaan protein, sehingga mengurangi kebutuhan kedelai yang selama ini menjadi bahan utama pakan. Bagi peternak seperti Gao Qinshan, efisiensi biaya menjadi motivasi utama. Pakan menyumbang hingga 70% dari total biaya produksi, sementara harga kedelai terus berfluktuasi akibat ketegangan perdagangan antara China dan Amerika Serikat serta konflik di Timur Tengah.
“Harga kedelai menjadi sangat tidak stabil,” ujarnya. Ia menambahkan, kondisi kelebihan pasokan dan lemahnya permintaan membuat bisnis peternakan babi semakin tidak menguntungkan.
Strategi Ketahanan Pangan China
Di balik upaya para peternak, pemerintah China memiliki agenda strategis yang lebih besar, yakni mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat swasembada pangan. Kedelai menjadi komoditas krusial, terutama sejak meningkatnya tensi dagang dengan Amerika Serikat di masa pemerintahan Donald Trump.
Baca Juga: IPO SpaceX Berpotensi Jadi Terbesar, Investor Ritel Dapat Porsi Jumbo Analis pakan dari Beijing Orient Agribusiness Consultants, Fu Zhenzhen, menyebut pengurangan penggunaan bungkil kedelai sebagai prioritas utama kebijakan nasional saat ini. “Alasan paling langsung adalah perang dagang dengan Amerika Serikat. Fermentasi menjadi kunci,” ujarnya. China sendiri merupakan importir kedelai terbesar di dunia, dengan nilai impor mencapai US$52,7 miliar pada 2024, termasuk sekitar US$12 miliar dari AS. Volume impor bahkan mencapai rekor 111,8 juta ton.
Adopsi Teknologi dan Peran Industri
Penggunaan pakan fermentasi di China terus meningkat. Saat ini, sekitar 8% pakan industri menggunakan metode ini, naik dari 3% pada 2022, dan diproyeksikan mencapai 15% pada 2030. Jika tren ini berlanjut, impor kedelai berpotensi ditekan hingga 6,3%. Sejumlah perusahaan besar turut mengambil peran. Muyuan Foods, produsen babi terbesar dunia, telah menurunkan porsi bungkil kedelai dalam pakan dari 10% menjadi 7,3% melalui penggunaan asam amino sintetis berbasis fermentasi. Sementara itu, New Hope Liuhe mengembangkan pakan unggas tanpa kedelai dengan memanfaatkan protein alternatif seperti duckweed yang difermentasi. Di sektor susu, dua raksasa industri, Yili Group dan China Mengniu Dairy, dilaporkan telah mengurangi penggunaan bungkil kedelai hingga 20% dalam pakan ternak mereka. Selain itu, investasi asing juga mulai masuk. Perusahaan perdagangan asal Belanda, Louis Dreyfus Company, berencana membangun lini produksi pakan fermentasi pertamanya di Tianjin.
Tantangan Implementasi
Meski menjanjikan, adopsi pakan fermentasi tidak tanpa kendala. Perubahan sistem pakan membutuhkan investasi besar dan penyesuaian teknis yang tidak mudah. Banyak peternak menghadapi masalah seperti pertumbuhan jamur dan pemborosan pakan pada tahap awal.
Baca Juga: China Kembali Naikkan Harga BBM, Bensin dan Solar Melonjak Selain itu, belum adanya standar baku dalam proses fermentasi menimbulkan kekhawatiran terkait kualitas nutrisi. Beberapa analis menilai ternak dapat tumbuh lebih lambat atau lebih rentan terhadap penyakit jika kualitas pakan tidak terjaga.
Faktor lain yang menjadi perhatian adalah kualitas daging. Konsultan pertanian Ian Lahiffe menilai industri terlalu fokus pada efisiensi biaya. “Ada permintaan besar untuk daging berkualitas, tetapi industri lebih fokus pada penghematan biaya,” ujarnya.
Peluang dan Dampak Global
Pasar pakan fermentasi China diperkirakan mencapai US$6 miliar pada tahun lalu, mendekati pasar Eropa yang bernilai US$7 miliar, dan jauh melampaui pasar Amerika Serikat yang sekitar US$2,5 miliar. Dengan dorongan kebijakan yang kuat dan kebutuhan efisiensi biaya, China kini berada di garis depan dalam pengembangan teknologi pakan fermentasi. Namun, keberhasilan jangka panjang akan sangat bergantung pada kemampuan menjaga keseimbangan antara efisiensi, kesehatan ternak, dan kualitas produk akhir. Langkah ini sekaligus mencerminkan strategi China untuk mengurangi ketergantungan pada impor komoditas strategis di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.