China Hentikan Ekspor Mineral Tanah Jarang ke Jepang, Industri Tertekan



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Ekspor mineral tanah jarang dan logam strategis dari China ke Jepang kembali tercatat sangat rendah pada Juni 2026. Kondisi ini memperpanjang dampak gangguan pasokan bahan baku yang dipicu oleh ketegangan diplomatik antara kedua negara.

Data bea cukai China yang dirilis pada Senin (20/7/2026) menunjukkan bahwa Beijing tidak mengirimkan galium, disprosium, terbium, maupun itrium ke Jepang sepanjang bulan lalu. Ekspor berbagai mineral penting tersebut telah dibatasi secara ketat selama beberapa bulan terakhir.

Jepang merupakan negara dengan industri magnet berbasis tanah jarang terbesar di dunia di luar China. Namun, seperti banyak negara lainnya, Jepang masih sangat bergantung pada China untuk memenuhi kebutuhan sejumlah bahan baku tanah jarang.


Penurunan tajam ekspor logam yang masuk dalam daftar pengawasan terjadi setelah pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi terkait Taiwan pada November lalu memicu ketegangan diplomatik antara Tokyo dan Beijing.

Baca Juga: Gangguan di Selat Hormuz Berlanjut, Lalu Lintas Kapal dan LNG Kian Menurun

China mulai menerapkan kontrol ekspor terhadap sejumlah jenis tanah jarang berat dan magnet yang mengandung unsur tersebut pada April 2025. Pemerintah China kemudian secara terbuka memperketat aturan ekspor ke Jepang pada Januari 2026, dan kembali memperluas pembatasan sebanyak dua kali pada bulan berikutnya dengan menyasar sejumlah konglomerasi besar Jepang.

Pelaku industri di Jepang telah memperingatkan soal akses terhadap mineral kritis yang semakin terbatas. Mereka menilai kondisi tersebut mulai berdampak terhadap perekonomian Jepang secara lebih luas.

Kontrol ekspor yang diterapkan China memungkinkan negara tersebut memanfaatkan posisi dominannya dalam rantai pasok mineral kritis global. Kebijakan ini juga telah menjadi salah satu instrumen diplomatik paling kuat yang dimiliki Beijing, termasuk dalam pembahasan terbaru dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Ekspor galium, logam yang digunakan dalam industri semikonduktor dan pembuatan magnet, kembali turun menjadi nol pada Juni. Sebelumnya, konsumen di Jepang sempat memperoleh sedikit kelonggaran setelah adanya pengiriman dalam jumlah besar pada Mei.

Baca Juga: Rusia Klaim Gagalkan Serangan 400 Drone Ukraina ke Moskow, Dua Orang Terluka

Kelangkaan itrium yang dipicu oleh pembatasan ekspor juga mengguncang pasar global. Itrium merupakan unsur tanah jarang yang digunakan untuk melindungi bilah turbin pada mesin pesawat maupun pembangkit listrik dari suhu ekstrem.

Pada Juni, China tidak mengekspor itrium ke Jepang. Sementara itu, Amerika Serikat yang sebelumnya menjadi salah satu tujuan utama ekspor tanah jarang China sebelum pembatasan diberlakukan, juga tidak menerima pasokan itrium dari China untuk bulan kedua berturut-turut.

Di sisi lain, total ekspor magnet tanah jarang China secara keseluruhan masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Sepanjang Juni, China mengekspor sekitar 5.649 metrik ton magnet tanah jarang, meningkat dibandingkan 4.730 ton pada bulan sebelumnya.