China Ingatkan Senjata Antariksa AS Akan Picu Perlombaan Senjata



KONTAN.CO.ID - BEIJING. China mendesak Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan peningkatan kekuatan militernya di luar angkasa setelah Washington mengakui adanya senjata yang ditempatkan di orbit.

Media pemerintah China mengingatkan langkah tersebut dapat memicu perlombaan senjata global.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan Beijing menentang militerisasi luar angkasa dan upaya mengubahnya menjadi zona perang.


"Kami mendesak AS untuk berhenti memperluas kekuatan militernya di luar angkasa dan menjaga stabilitas strategis global melalui tindakan nyata," ujar Guo dalam konferensi pers rutin pada Selasa (15/9/2026), seperti dilansir Reuters.

Baca Juga: Beijing Buka Akses Pasar Luar Negeri, Investor China Menyerbu Saham AS

Menteri Angkatan Udara AS Troy Meink menyatakan bahwa Amerika Serikat memiliki senjata kendali antariksa di orbit yang mampu melindungi Pasukan Gabungan (Joint Force) dari tindakan musuh yang bermusuhan. Ini merupakan pengakuan paling tegas sejauh ini dari pejabat Pentagon mengenai keberadaan senjata AS di orbit. Meink tidak merinci jenis senjata tersebut.

Surat kabar *Global Times* yang didukung pemerintah China dalam laporannya pada hari Selasa menyebutkan bahwa pengungkapan tersebut menyingkap apa yang mereka sebut sebagai upaya Washington untuk mencapai "hegemoni antariksa" dan berisiko memicu perlombaan senjata antariksa global.

Analis militer China, Song Zhongping, mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa pengakuan itu menandai pergeseran strategi—dari sekadar melindungi aset antariksa dan mengandalkan sistem antariksa berbasis darat, menjadi penempatan senjata secara langsung di orbit.

"Jika AS terus menempuh jalan ini, negara-negara lain mungkin terpaksa memberikan respons," kata Song.

Pekan lalu, kantor berita pemerintah Xinhua—dalam analisisnya mengenai latihan militer AS di orbit—menyatakan, langkah Washington untuk memiliterisasi ranah ini berisiko menciptakan "dilema keamanan". Hal ini dapat memaksa negara-negara lain untuk memperkuat kemampuan antariksa tandingan (counter-space), yang kemudian akan dianggap oleh Amerika Serikat sebagai ancaman baru.

Baca Juga: Mata Uang Asia Mayoritas Menguat, Won Korea Turun Paling Dalam di Tengah Hari Ini