China Jadi Pemberat Defisit Neraca Dagang RI, AS Masih Penyumbang Surplus



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Amerika Serikat masih menjadi penyumbang surplus terbesar bagi neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari–Mei 2026. Sebaliknya, China tetap menjadi negara yang paling membebani neraca perdagangan nasional dengan defisit mencapai lebih dari US$ 10 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan meskipun per bulan Mei neraca dagang RI mengalami defisit US$ 1,61 miliar, namun secara kumulatif, selama periode Januari-Mei 2026 Indonesia masih mencatat surplus neraca perdagangan sebesar US$ 4,03 miliar.

Surplus tersebut ditopang oleh perdagangan nonmigas yang membukukan surplus US$ 16,31 miliar, meski tergerus defisit migas sebesar US$ 12,28 miliar.


Baca Juga: Impor RI Melonjak 22,16% pada Mei 2026, Dipicu Impor Bahan Baku dan Barang Penolong

"Hingga Mei 2026, neraca perdagangan barang Indonesia mencatat surplus sebesar US$ 4,03 miliar. Surplus ini terutama ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar US$ 16,31 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit sebesar US$ 12,28 miliar," ujar Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/7/2026).

BPS mencatat Amerika Serikat menjadi kontributor surplus terbesar terhadap neraca perdagangan Indonesia dengan nilai mencapai US$ 7,03 miliar. Posisi berikutnya ditempati India yang menyumbang surplus sebesar US$ 5,29 miliar, disusul Filipina sebesar US$ 3,58 miliar.

Di sisi lain, China masih menjadi penyumbang defisit terbesar dengan nilai mencapai US$ 10,17 miliar. Defisit perdagangan Indonesia juga terjadi dengan Australia sebesar US$ 3,99 miliar dan Singapura sebesar US$ 3,83 miliar.

Secara khusus pada perdagangan nonmigas, Amerika Serikat kembali menjadi negara penyumbang surplus terbesar dengan nilai US$ 8,47 miliar. Surplus tersebut terutama berasal dari perdagangan mesin dan perlengkapan elektrik, alas kaki, serta pakaian rajut.

India berada di posisi kedua dengan surplus nonmigas sebesar US$ 5,34 miliar yang ditopang ekspor bahan bakar mineral, lemak dan minyak nabati, serta mesin dan perlengkapan elektrik.

Sementara surplus dengan Filipina mencapai US$ 3,42 miliar, terutama berasal dari kendaraan dan bagiannya, bahan bakar mineral, serta lemak dan minyak nabati.

Baca Juga: Pedagang Online Wajib Tahu! Ini Cara Kerja Pajak 0,5% di Marketplace

Sebaliknya, defisit nonmigas terbesar masih berasal dari Tiongkok yang mencapai US$ 10,73 miliar. Defisit tersebut terutama dipicu tingginya impor mesin dan peralatan mekanik, mesin dan perlengkapan elektrik, serta plastik dan barang dari plastik.

Australia menjadi penyumbang defisit nonmigas terbesar kedua sebesar US$ 3,62 miliar, yang didominasi impor logam mulia dan perhiasan, serealia, serta bahan bakar mineral. Sementara Prancis mencatat defisit US$ 1,29 miliar yang berasal dari impor kendaraan udara dan bagiannya, mesin dan peralatan mekanik, serta instrumen optik dan fotografi.

Dari sisi komoditas, surplus nonmigas Indonesia paling besar berasal dari kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati (HS15) sebesar US$ 13,92 miliar. Selanjutnya, bahan bakar mineral (HS27) mencatat surplus US$ 10,88 miliar dan besi serta baja (HS72) sebesar US$ 7,09 miliar.

Di sisi lain, komoditas yang paling membebani neraca perdagangan nonmigas adalah mesin dan peralatan mekanik (HS84) dengan defisit US$ 12,74 miliar. Berikutnya mesin dan perlengkapan elektrik (HS85) mencatat defisit US$ 6,23 miliar, serta plastik dan barang dari plastik (HS39) sebesar US$ 3,74 miliar.

Secara keseluruhan, nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari–Mei 2026 mencapai US$ 115,36 miliar atau tumbuh 3,02% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, nilai impor meningkat lebih tinggi, yakni 15,24% menjadi US$ 111,33 miliar. Dengan perkembangan tersebut, Indonesia masih membukukan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 4,03 miliar tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News