China Jadi Pendorong Lonjakan Impor Uni Eropa yang Mengkhawatirkan



KONTAN.CO.ID - BRUSSELS. Impor Uni Eropa (UE) menghadapi tekanan yang semakin besar seiring lonjakan arus barang dari China. Komisi Eropa menilai hampir seperempat impor ke kawasan tersebut saat ini meningkat pada laju yang mengkhawatirkan, terutama didorong produk asal China.

Kepala penegakan perdagangan Komisi Eropa, Denis Redonnet, menyampaikan kondisi tersebut saat berbicara di hadapan Komite Perdagangan Parlemen Eropa pada Kamis (1/10/2026). Menurut dia, sejumlah sektor mengalami pertumbuhan impor yang berkelanjutan dan tidak normal.

Sektor yang terdampak antara lain mesin, tekstil, logam dasar, dan bahan kimia.


Redonnet mengatakan, hasil pemantauan impor UE menunjukkan adanya tren yang perlu mendapat perhatian serius.

Baca Juga: AS Tekan Eropa Lepas Cadangan Diesel, Ancaman Larangan Ekspor Membayangi 

"Yang menjadi perhatian serius adalah bahwa hasil pengawasan impor atau barometer menunjukkan tren yang berpotensi mengkhawatirkan untuk hampir seperempat dari seluruh impor ke UE saat ini. Dan China serta produk asal China merupakan pendorong utama peningkatan impor ini," kata Redonnet.

Kondisi tersebut terjadi ketika UE tengah meningkatkan pembicaraan dengan Beijing untuk mengatasi defisit perdagangan barang dengan China. Defisit perdagangan barang UE dengan China mencapai €360 miliar atau sekitar US$407 miliar pada 2025.

Impor China ke UE Meningkat

Nilai impor China ke UE terus meningkat, sementara ekspor UE ke China mengalami penurunan dalam laju yang hampir sama. Brussels berharap dapat mencapai kesepakatan dengan Beijing mengenai bentuk tertentu dari pengelolaan ekspor China pada Oktober 2026.

Pada 2025, total impor UE mencapai €2,53 triliun atau sekitar US$2,86 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar €571 miliar berasal dari China.

Peningkatan ekspor ke pasar UE juga mendorong kenaikan tajam permintaan industri terhadap penerapan langkah-langkah perlindungan perdagangan.

Baca Juga: Israel dan Uni Emirat Arab Masih Menyelidiki Insiden Penerbangan flydubai 

Komisi Eropa mencatat telah membuka 32 kasus baru terkait perdagangan pada 2025. Angka tersebut hanya sedikit di bawah rekor 33 kasus pada 2024 dan jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis tahunan sebanyak 12 kasus.

Lebih dari sepertiga penyelidikan baru pada 2025 melibatkan sektor bahan kimia.

Redonnet mengatakan, tren tersebut masih berlanjut pada 2026. Hingga saat ini, Komisi Eropa telah membuka 27 kasus baru terkait perdagangan.

Lonjakan penyelidikan tersebut mencerminkan meningkatnya perhatian UE terhadap perkembangan arus impor, khususnya produk yang berasal dari China, di tengah upaya Brussels mengurangi ketidakseimbangan perdagangan dengan Beijing.