KONTAN.CO.ID - BEIJING. Pemerintah China mengecam penyelidikan perdagangan yang diluncurkan oleh Amerika Serikat terkait dugaan kelebihan kapasitas industri (overcapacity). Langkah tersebut dinilai berpotensi mengganggu prospek putaran baru perundingan dagang antara kedua negara yang dijadwalkan dimulai akhir pekan ini. Melalui pernyataan resmi pada Jumat (13/3/2026), Kementerian Perdagangan China menyatakan bahwa pemerintah AS tidak memiliki hak untuk secara sepihak menentukan apakah mitra dagangnya mengalami kelebihan kapasitas industri melalui penyelidikan berdasarkan Section 301 of the Trade Act of 1974.
Beijing juga menilai penggunaan mekanisme tersebut untuk mengambil langkah pembatasan perdagangan secara sepihak tidak dapat dibenarkan. “AS tidak memiliki hak untuk secara sepihak menentukan apakah mitra dagangnya memiliki ‘kelebihan kapasitas’ melalui investigasi Section 301 dan kemudian mengambil tindakan pembatasan sepihak,” demikian pernyataan Kementerian Perdagangan China.
Baca Juga: Surplus Dagang Vietnam dengan AS Tembus US$19 Miliar, Lampaui China China menjadi salah satu negara yang menjadi sasaran penyelidikan ketika AS pada Rabu lalu mengumumkan investigasi terkait dugaan kelebihan kapasitas industri serta isu kerja paksa. Pemerintah China menyatakan saat ini sedang melakukan evaluasi terhadap investigasi tersebut dan menegaskan akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingan nasionalnya. Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China juga membantah tuduhan mengenai praktik kerja paksa. Ia menyebut tuduhan tersebut sebagai “kebohongan yang direkayasa oleh AS”.
Bayangi agenda pertemuan Trump–Xi
Ketegangan baru ini menambah daftar isu sensitif yang harus dibahas oleh Beijing dan Washington menjelang rencana kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China pada akhir Maret untuk bertemu Presiden Xi Jinping. Sebelum pertemuan tingkat tinggi tersebut, kedua negara akan menggelar perundingan dagang di Prancis yang dijadwalkan berlangsung pada 14–17 Maret. Pertemuan ini diharapkan menjadi landasan bagi agenda pembicaraan antara kedua pemimpin negara. China menyatakan Wakil Perdana Menteri He Lifeng akan memimpin delegasi Beijing dalam perundingan tersebut. Sementara delegasi AS diperkirakan akan diwakili oleh Menteri Keuangan Scott Bessent dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer.
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak, Goldman Sachs Prediksi Brent Tembus US$100 Putaran keenam sejak kenaikan tarif
Pertemuan di Prancis akan menjadi putaran keenam perundingan perdagangan sejak Presiden Trump tahun lalu menaikkan tarif terhadap berbagai produk asal China. Sebagai balasan, Beijing menerapkan pembatasan ekspor terhadap sejumlah mineral kritis serta mengenakan tarif balasan terhadap barang-barang asal AS. Kebijakan tersebut sempat mendorong tarif impor kedua negara ke tingkat yang sangat tinggi. Namun, melalui kesepakatan gencatan sementara dalam perundingan sebelumnya serta pertemuan para pemimpin di Korea Selatan pada akhir Oktober lalu, kedua negara sejak itu mulai menarik kembali sebagian besar kebijakan pembatasan perdagangan tersebut. Meski demikian, penyelidikan baru dari Washington menunjukkan bahwa ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia itu masih berpotensi memanas, bahkan ketika kedua pihak tengah berupaya menstabilkan hubungan dagang mereka.