KONTAN.CO.ID - Pemerintah China menegaskan penolakannya terhadap praktik negara mana pun yang bertindak sebagai “hakim dunia”, menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyampaikan pernyataan tersebut saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar di Beijing pada Minggu (4/1/2026). Meski tidak menyebut Amerika Serikat secara langsung, Wang merujuk pada “perkembangan mendadak di Venezuela”.
“Kami tidak pernah percaya bahwa ada negara yang bisa bertindak sebagai polisi dunia, dan kami juga tidak menerima klaim negara mana pun sebagai hakim dunia,” ujar Wang Yi.
Baca Juga: Akhir 2025 Kurang Manis, PMI Jasa China ke Titik Terlemah 6 Bulan Ia menambahkan bahwa “kedaulatan dan keamanan semua negara harus dilindungi sepenuhnya berdasarkan hukum internasional.” Pernyataan ini menjadi komentar resmi pertama Beijing sejak beredarnya gambar Maduro dalam kondisi diborgol dan ditutup matanya yang mengejutkan publik Venezuela pada Sabtu lalu. Maduro kini ditahan di pusat penahanan New York dan dijadwalkan menghadapi sidang pengadilan pada Senin terkait tuduhan narkotika. China dalam beberapa tahun terakhir berambisi memperkuat perannya sebagai kekuatan diplomatik global. Ambisi tersebut terlihat jelas ketika Beijing berhasil memediasi rekonsiliasi antara Arab Saudi dan Iran pada 2023, sekaligus berjanji memainkan “peran konstruktif dalam isu-isu global yang menjadi titik panas”.
Baca Juga: Taruhan Trump di Venezuela: Risiko Geopolitik vs Harapan Pasokan Minyak Kepercayaan diri China juga meningkat seiring keberhasilannya menghadapi Amerika Serikat dalam negosiasi perdagangan, menurut para analis. Namun, pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa Washington akan mengambil alih pemerintahan Venezuela untuk sementara waktu menjadi ujian serius bagi kemitraan strategis komprehensif segala cuaca antara China dan Venezuela yang disepakati pada 2023, bertepatan dengan hampir 50 tahun hubungan diplomatik kedua negara. “Itu pukulan besar bagi China. Kami ingin tampil sebagai sahabat yang dapat diandalkan bagi Venezuela,” kata seorang pejabat pemerintah China yang mengetahui pertemuan antara Maduro dan utusan khusus China untuk Amerika Latin dan Karibia, Qiu Xiaoqi, beberapa jam sebelum penangkapan tersebut. Pejabat itu juga menyebutkan bahwa putra Maduro sempat mengunjungi Universitas Peking pada 2024, tempat ia pertama kali mendaftar pada 2016. Namun, mereka mengaku belum yakin apakah ia akan kembali ke China, meskipun Beijing telah menjalin keterlibatan diplomatik jangka panjang dengan Caracas, termasuk di bidang pendidikan.
Baca Juga: Trump Tidak Percaya Klaim Rusia soal Serangan Ukraina ke Kediaman Putin Sebagai ekonomi terbesar kedua dunia, China telah menjadi penopang ekonomi penting bagi Venezuela sejak Amerika Serikat dan sekutunya memperketat sanksi pada 2017. Pada 2024, China tercatat membeli barang senilai sekitar US$1,6 miliar dari Venezuela, berdasarkan data tahunan terbaru. Hampir separuh pembelian tersebut berupa minyak mentah, menurut data bea cukai. Selain itu, perusahaan minyak milik negara China telah menanamkan investasi sekitar US$4,6 miliar di Venezuela hingga 2018, berdasarkan data lembaga pemikir American Enterprise Institute yang memantau investasi korporasi China di luar negeri.