China Kecam Rencana Tarif Baru AS, Sebut Langgar Prinsip Perdagangan Global



KONTAN.CO.ID - China menyatakan penolakannya terhadap rencana tarif tambahan yang diusulkan Amerika Serikat (AS) setelah penyelidikan terkait praktik perdagangan yang dianggap tidak adil oleh Washington.

Melansir Reuters melalui pernyataan yang dikutip media pemerintah China pada Kamis (5/6/2026), China Council for the Promotion of International Trade (CCPIT) menyebut, komunitas bisnis China sangat tidak puas dan menentang keras usulan tarif tambahan sebesar 12,5% terhadap produk-produk asal China.

Baca Juga: Rupiah Sentuh Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, Won Korea Merosot ke Level 2009


Pernyataan tersebut muncul setelah pemerintahan Presiden AS, Donald Trump, mengusulkan tarif tambahan sebesar 10% hingga 12,5% terhadap impor dari 60 negara.

Langkah itu diambil berdasarkan hasil investigasi Section 301 yang menyimpulkan negara-negara tersebut dinilai gagal membatasi perdagangan barang yang diduga diproduksi menggunakan kerja paksa. Namun, tuduhan tersebut telah dibantah oleh sejumlah mitra dagang AS.

Menurut CCPIT, kebijakan tarif yang diusulkan Washington mencerminkan penerapan standar domestik dan aturan sepihak AS terhadap negara lain.

Lembaga tersebut menilai kebijakan itu menyimpang dari prinsip-prinsip sistem perdagangan multilateral yang selama ini menjadi dasar perdagangan internasional.

"Komunitas bisnis China mendesak AS untuk menghentikan generalisasi dan penyalahgunaan langkah-langkah pembatasan perdagangan," demikian pernyataan CCPIT yang dikutip oleh media pemerintah China.

Baca Juga: Saham AIA, HSBC dan Standard Chartered Jatuh Setelah China Perketat Kontrol Modal

Minta Sengketa Diselesaikan Lewat Dialog

CCPIT juga meminta pemerintah AS untuk menyelesaikan perbedaan ekonomi dan perdagangan melalui dialog dan konsultasi, bukan dengan kebijakan tarif yang dinilai dapat memperburuk hubungan dagang kedua negara.

Selain itu, lembaga tersebut menyerukan pentingnya menjaga stabilitas rantai pasok dan rantai industri global yang saat ini masih menghadapi berbagai tantangan akibat ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia.

Menurut CCPIT, kerja sama antara negara-negara ekonomi besar sangat diperlukan untuk menjaga kelancaran perdagangan internasional dan menghindari gangguan yang dapat berdampak pada dunia usaha.

Baca Juga: Jepang Siapkan Hingga 14 Reaktor Nuklir Baru untuk Penuhi Lonjakan Kebutuhan Listrik

Dalam pernyataannya, CCPIT juga menegaskan akan terus mendukung perusahaan-perusahaan China untuk memperkuat kepatuhan terhadap regulasi internasional serta meningkatkan kemampuan manajemen risiko di tengah dinamika perdagangan global yang semakin kompleks.

Rencana tarif baru dari AS berpotensi menambah ketegangan dalam hubungan dagang Washington-Beijing yang dalam beberapa tahun terakhir telah diwarnai berbagai sengketa terkait tarif, teknologi, keamanan rantai pasok, dan isu hak asasi manusia.

Pelaku pasar kini menunggu respons lebih lanjut dari kedua negara, mengingat kebijakan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut memiliki dampak signifikan terhadap arus perdagangan global, investasi, dan stabilitas rantai pasok internasional.