China Kirim Kapal ke Timur Taiwan, Menhan Wellington Koo: Ini Perang Kognitif



KONTAN.CO.ID - Menteri Pertahanan Taiwan Wellington Koo menyatakan bahwa aktivitas patroli Penjaga Pantai China (China Coast Guard) di wilayah perairan sebelah timur Taiwan merupakan "tindakan provokatif".

Menanggapi hal tersebut, militer Taiwan dipastikan akan berkoordinasi sangat ketat dengan Penjaga Pantai pulau tersebut untuk memberikan respons di lapangan.

Baca Juga: Kendalikan Diplomasi Timur Tengah, Trump ke Netanyahu: Saya yang Menentukan


Beijing yang mengklaim Taiwan yang demokratis sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya dilaporkan meradang setelah Jepang dan Filipina mengumumkan akan memulai pembicaraan resmi terkait pembatasan batas maritim (delimitation) mereka bulan lalu.

Pembatasan tersebut dinilai Beijing ikut melibatkan wilayah perairan di lepas pantai Taiwan.

Sebagai respons atas pengumuman Jepang dan Filipina, media pemerintah China pada Sabtu malam menyatakan bahwa Beijing telah mengirimkan armada kapal untuk melaksanakan "operasi penegakan hukum lalu lintas maritim khusus" di perairan timur Taiwan.

Tudingan Perang Kognitif oleh Taiwan

Menyikapi masuknya kapal-kapal China, Penjaga Pantai Taiwan langsung mengerahkan armada kapalnya sendiri untuk memberikan peringatan.

Pada hari Minggu kemarin, otoritas Taiwan mengonfirmasi bahwa kapal-kapal China tersebut telah berhasil "diusir" keluar dari zona perairan terlarang mereka.

Baca Juga: Indeks Nikkei Jepang Anjlok Terdalam dalam 3 Bulan Senin (8/6), Yen Tembus Level 160

"Pertama, ini adalah tindakan provokatif, dan kedua, ini adalah bentuk perang kognitif (cognitive warfare)," tegas Wellington Koo di hadapan parlemen maritim Taiwan dilansir Reuters pada hari Senin (8/6).

"Mereka mencoba mengklaim perairan timur sebagai wilayah kekuasaan mereka, seperti menebarkan jaring laba-laba raksasa di kawasan tersebut. Ini merupakan penghinaan serius terhadap kedaulatan nasional kami," tambah Koo.

Hingga berita ini dirilis, Kantor Urusan Taiwan di China belum memberikan respons terhadap permintaan wawancara.

Berdasarkan prinsip diplomatiknya, Beijing secara tegas tidak pernah mengakui klaim kedaulatan apa pun dari pemerintah Taiwan.

Baca Juga: Bursa Saham China dan Hong Kong Dibuka Merosot Dalam Senin (8/6)

Eskalasi Provokasi Sepanjang Bulan Mei

Kepala Dewan Urusan Kelautan Taiwan yang membawahi Penjaga Pantai, Kuan Bi-ling, menjabarkan lewat laman Facebook pribadinya bahwa China telah meluncurkan kampanye "eskalasi provokasi" yang masif sejak awal Mei lalu. Rangkaian provokasi tersebut meliputi:

Operasi militer di sekitar Kepulauan Pratas yang dikuasai Taiwan di ujung utara Laut China Selatan.

Pengiriman kapal riset dan pemetaan khusus ke wilayah perairan dekat Taiwan.

Pengoperasian jet tempur dan kapal perang di sekitar perimeter Taiwan yang kini terjadi hampir setiap hari.

"Lautan seharusnya menjadi lautan perdamaian, bukan lautan penuh konflik dan ancaman," tulis Kuan.

Baca Juga: Panik Pasar Modal Senin (8/6): Indeks KOSPI Korea Selatan Anjlok Hampir 9%

Pembagian Tugas Militer Taiwan

Dalam menghadapi tekanan Beijing, Taiwan menerapkan pembagian tugas yang terstruktur. Angkatan Laut (Taiwan's Navy) umumnya hanya bertugas membayangi dan memberi peringatan kepada kapal Angkatan Laut China.

Sementara itu, Penjaga Pantai Taiwan bertanggung jawab penuh untuk memantau kapal-kapal milik China Coast Guard.

Namun dalam situasi perang, Penjaga Pantai ini akan beralih fungsi menjadi peran pembantu (auxiliary) guna menyokong kekuatan penuh Angkatan Laut.

Selain gejolak kapal patroli, Menhan Koo menambahkan bahwa Taiwan saat ini juga tengah memonitor pergerakan jangka panjang kapal induk China, Liaoning, di Samudra Pasifik Barat. Kapal induk raksasa tersebut dilaporkan tengah berada di perairan sebelah timur Filipina.

TAG: