China Larang Penggunaan Perangkat Lunak Keamanan Siber AS dan Israel, Ini Alasannya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas China memerintahkan perusahaan-perusahaan domestik untuk menghentikan penggunaan perangkat lunak keamanan siber buatan sekitar selusin perusahaan asal Amerika Serikat dan Israel dengan alasan kekhawatiran terhadap keamanan nasional, menurut dua sumber yang mengetahui kebijakan tersebut.

Seiring meningkatnya ketegangan perdagangan dan diplomatik antara China dan Amerika Serikat, serta persaingan ketat kedua negara dalam perebutan supremasi teknologi, Beijing semakin gencar menggantikan teknologi buatan Barat dengan produk dalam negeri.

Sejumlah perusahaan AS yang perangkat lunak keamanan sibernya dilarang digunakan antara lain VMware yang dimiliki Broadcom, Palo Alto Networks, dan Fortinet. Sementara dari Israel, larangan tersebut mencakup Check Point Software Technologies, kata para sumber.


Reuters belum dapat memastikan berapa banyak perusahaan China yang telah menerima pemberitahuan larangan tersebut, yang menurut sumber diterbitkan dalam beberapa hari terakhir.

Baca Juga: Dampak Blokade Trump: Impor Minyak China dari Venezuela Anjlok 75%

Otoritas China menyatakan kekhawatiran bahwa perangkat lunak tersebut berpotensi mengumpulkan dan mengirimkan informasi rahasia ke luar negeri. Para sumber menolak disebutkan namanya karena sensitifnya isu ini.

Hingga artikel ini diterbitkan, regulator internet China, Cyberspace Administration of China (CAC), serta Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar. Keempat perusahaan yang disebutkan juga belum menjawab pertanyaan dari Reuters.

Persiapan Kunjungan Trump ke Beijing

Amerika Serikat dan China, yang saat ini terikat dalam gencatan senjata dagang yang rapuh, tengah mempersiapkan kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing pada April mendatang.

Bahkan sebelum Trump kembali berkuasa pada awal tahun lalu, dinamika politik seputar vendor keamanan siber asing telah lama menjadi isu sensitif.

Di tengah perselisihan antara Barat dan China terkait ambisi Beijing membangun industri semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI), para analis China menilai pemerintah semakin khawatir bahwa peralatan buatan Barat dapat diretas oleh kekuatan asing.

Karena itu, China berupaya menggantikan perangkat komputer dan perangkat lunak pengolah kata buatan Barat dengan produk lokal. Beberapa penyedia keamanan siber terbesar di China antara lain 360 Security Technology dan Neusoft.

Di sisi lain, sejumlah perusahaan AS dan Israel yang menghadapi larangan tersebut sebelumnya berulang kali menuduh adanya operasi peretasan oleh China, tuduhan yang selalu dibantah oleh Beijing.

Bulan lalu, Check Point menerbitkan laporan mengenai dugaan operasi peretasan yang dikaitkan dengan China terhadap sebuah “kantor pemerintahan Eropa” yang tidak disebutkan namanya.

Baca Juga: China Menyelidiki Agen Travel Trip.com Atas Dugaan Monopoli

Sementara pada September lalu, Palo Alto Networks merilis laporan yang menuding adanya upaya peretasan oleh China yang menargetkan diplomat di berbagai negara.

Jejak Bisnis Besar di China

Perusahaan-perusahaan tersebut telah membangun kehadiran bisnis yang signifikan di China selama bertahun-tahun.

Fortinet, misalnya, memiliki tiga kantor di China daratan dan satu kantor di Hong Kong. Situs resmi Check Point mencantumkan alamat dukungan di Shanghai dan Hong Kong. Broadcom memiliki enam lokasi di China, sementara Palo Alto Networks mencatat lima kantor lokal di China, termasuk satu di Makau.

Menurut para analis, perusahaan keamanan siber kerap diisi oleh mantan personel intelijen dan biasanya bekerja erat dengan lembaga pertahanan nasional masing-masing negara.

Selain itu, perangkat lunak keamanan siber memiliki akses luas ke jaringan perusahaan dan perangkat individu, yang secara teoritis dapat dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk aktivitas spionase atau sabotase.

TAG: