KONTAN.CO.ID - Industri antariksa China mencatat kemajuan penting dalam pengembangan teknologi roket yang dapat digunakan kembali atau
reusable. Startup asal China LandSpace berhasil mendaratkan kembali tahap pertama roket Zhuque-3 setelah peluncuran. Keberhasilan tersebut membuat LandSpace bergabung dengan SpaceX dan Blue Origin sebagai perusahaan swasta yang berhasil mendaratkan booster roket kelas orbital.
Baca Juga: Amazon Jadi Sorotan karena Hancurkan Buku Langka untuk Melatih AI Pencapaian ini sekaligus mempersempit kesenjangan teknologi China dengan Amerika Serikat dalam pengembangan roket yang dapat digunakan berulang kali. Teknologi reusable rocket menjadi salah satu kunci dalam menekan biaya peluncuran ke luar angkasa. Dengan kemampuan mengembalikan dan menggunakan kembali booster, perusahaan dapat mengurangi biaya produksi sekaligus meningkatkan frekuensi peluncuran satelit. Roket Zhuque-3 memiliki panjang 66,1 meter dan diluncurkan dari Dongfeng Commercial Space Innovation Pilot Zone di China barat laut. Tahap pertama yang ditenagai sembilan mesin tersebut berhasil kembali dan mendarat di Provinsi Gansu, sekitar 390 kilometer dari lokasi peluncuran. Keberhasilan ini merupakan upaya kedua LandSpace untuk mendaratkan kembali tahap pertama Zhuque-3.
Baca Juga: Dolar AS Tertekan Dekati Level Terendah Multi-Bulan, Pasar Tunggu Risalah The Fed Bidik IPO Rp 17 Triliun Dari sisi bisnis, keberhasilan pendaratan booster berpotensi memperkuat posisi LandSpace menjelang rencana penawaran umum perdana saham atau IPO. LandSpace tengah membidik penghimpunan dana sekitar 7,5 miliar yuan atau sekitar US$ 1,11 miliar melalui IPO di Shanghai Stock Exchange pada STAR Market. Dana hasil IPO tersebut akan digunakan untuk mendukung pengembangan teknologi sekaligus memperluas bisnis layanan peluncuran roket yang dapat digunakan kembali. LandSpace telah menyerahkan prospektus IPO yang diperbarui kepada bursa pada Juni 2026. Dalam dokumen tersebut, perusahaan menargetkan mulai mencetak keuntungan pada 2029. Keberhasilan Zhuque-3 diperkirakan dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek komersialisasi teknologi roket reusable yang dikembangkan perusahaan.
Baca Juga: Harga CPO Malaysia Diproyeksi Bertahan di Atas Rp 4.600 per Ton pada September Saingi Falcon 9 Milik SpaceX LandSpace memposisikan Zhuque-3 sebagai salah satu pesaing roket Falcon 9 milik SpaceX. Roket China tersebut menggunakan material baja tahan karat yang diklaim memiliki ketahanan panas lebih tinggi sekaligus berpotensi menekan biaya produksi dibandingkan paduan aluminium-litium yang digunakan Falcon 9. Zhuque-3 juga menggunakan bahan bakar metana dan oksigen cair. Menurut LandSpace, kombinasi tersebut menghasilkan pembakaran yang lebih bersih dibandingkan campuran oksigen cair dan minyak tanah yang digunakan Falcon 9. Dalam konfigurasi sekali pakai, Zhuque-3 mampu membawa muatan hingga 14,2 ton ke orbit rendah Bumi (
low Earth orbit/LEO). Kapasitas tersebut masih di bawah Falcon 9 yang mampu membawa sekitar 22,8 ton dalam misi sekali jalan.
LandSpace menargetkan booster Zhuque-3 dapat digunakan kembali hingga 20 kali.
Baca Juga: Harga Emas Naik Tipis ke US$ 4.342 Rabu (19/8), Pasar Menanti Risalah Rapat The Fed Sebagai pembanding, SpaceX telah mengoperasikan Falcon 9 dalam skala jauh lebih besar. Roket tersebut diluncurkan sekitar 150 kali dalam setahun dan booster-nya telah digunakan kembali hingga puluhan kali. Keberhasilan LandSpace menunjukkan bahwa persaingan bisnis antariksa kini semakin bergeser dari sekadar kemampuan meluncurkan roket menuju efisiensi biaya, frekuensi peluncuran, dan kemampuan menggunakan kembali teknologi peluncuran.