KONTAN.CO.ID - Regulator keuangan China dilaporkan meminta bank-bank besar di negara tersebut untuk sementara menghentikan penyaluran pinjaman baru kepada lima kilang minyak yang baru saja dikenai sanksi oleh Amerika Serikat (AS) terkait hubungan mereka dengan minyak Iran. Laporan tersebut pertama kali diberitakan
Bloomberg News pada Rabu (6/5/2026), mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Reuters menyebut belum dapat memverifikasi laporan itu secara independen.
Baca Juga: Dolar Tertekan Kamis (7/5) Pagi, Pasar Optimistis Iran dan AS Dekati Kesepakatan Menurut laporan
Bloomberg, National Financial Regulatory Administration (NFRA) secara lisan telah mengarahkan perbankan agar tidak memberikan pinjaman baru dalam denominasi yuan kepada perusahaan-perusahaan kilang terkait. Namun, bank diminta untuk tidak menarik fasilitas kredit yang sudah berjalan. Bank-bank tersebut juga diminta meninjau hubungan bisnis mereka dengan sejumlah perusahaan, termasuk kilang swasta terbesar China, Hengli Petrochemical (Dalian) Refinery.
Baca Juga: Indeks KOSPI Sempat Sentuh Rekor Tertinggi, Investor Asing Mulai Taking Profit Baik NFRA maupun Hengli Petrochemical belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar
Reuters. Arahan regulator tersebut disebut telah diberikan sebelum 1 Mei 2026. Langkah ini dinilai bertolak belakang dengan sikap Kementerian Perdagangan China yang pada 2 Mei lalu justru meminta perusahaan domestik mengabaikan sanksi AS. Seruan untuk mengabaikan sanksi tersebut menjadi pertama kalinya China menggunakan mekanisme “blocking measures” yang diperkenalkan pada 2021 guna melindungi perusahaan China dari intervensi asing yang dianggap tidak wajar. Pada April lalu, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap Hengli Petrochemical dengan tuduhan membeli minyak Iran senilai miliaran dolar AS. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya Washington membatasi pendapatan minyak Teheran.
Baca Juga: Bursa Asia Cetak Rekor Kamis (7/5) Pagi, Harapan Damai AS-Iran Angkat Sentimen Pasar Menteri Keuangan AS Scott Bessent bulan lalu juga menyatakan bahwa AS telah memperingatkan dua bank China bahwa mereka dapat dikenai sanksi sekunder apabila terbukti memproses transaksi yang berkaitan dengan Iran. Namun, Bessent tidak mengungkap identitas bank tersebut. Sanksi AS tersebut dilaporkan mulai menimbulkan hambatan bagi operasional kilang China, termasuk kesulitan menerima pasokan minyak mentah dan keharusan menjual produk olahan dengan nama berbeda.