KONTAN.CO.ID - China akan memangkas tarif impor terhadap berbagai produk pertanian asal Amerika Serikat (AS), mulai dari jagung, gandum, daging hingga produk susu. Namun, komoditas kedelai yang menjadi salah satu produk pertanian AS terbesar di pasar China justru masih dikecualikan. Melansir
Reuters, Kementerian Perdagangan China dalam daftar yang diterbitkan Senin (28/9/2026) menyebutkan, pengurangan tarif mencakup sorgum, minyak nabati dan produk turunannya, termasuk minyak kedelai dan bungkil kedelai, serta berbagai produk daging, susu dan komoditas pertanian lainnya.
Baca Juga: Harga Emas Anjlok Lebih dari 2%, Terseret Spekulasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Sementara itu, kedelai asal AS masih dikenakan tarif tambahan sebesar 10%. Pelaku perdagangan sebelumnya memperingatkan bahwa tarif tersebut terlalu tinggi untuk ditanggung oleh perusahaan penghancur kedelai swasta di China. Keputusan tersebut menjadi perhatian pasar setelah pelaku perdagangan menantikan langkah China terkait tarif produk pertanian AS menyusul pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington pada pekan lalu. Meski tarif kedelai belum dipangkas, perusahaan pembelian komoditas milik pemerintah China telah meningkatkan pembelian kedelai dari AS. Perusahaan pertanian milik negara China, Sinograin dan COFCO, telah membeli lebih dari 12 juta ton kedelai AS. Jumlah tersebut hampir setengah dari target pembelian 25 juta ton per tahun yang disebut Gedung Putih telah disepakati China hingga 2028. Selain itu, kedua negara sepakat membentuk dewan perdagangan. Tugas pertama dewan tersebut adalah membahas pemangkasan tarif timbal balik terhadap produk senilai US$30 miliar sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas hubungan ekonomi dan perdagangan kedua negara.
Baca Juga: Australia Catat Defisit Anggaran A$ 22,3 Miliar di Tahun Keuangan 2025/26 Berdasarkan perhitungan Reuters, nilai perdagangan produk pertanian dan barang terkait yang masuk dalam daftar pengurangan tarif China mencapai sekitar US$17 miliar pada 2024. Nilai tersebut kurang lebih sejalan dengan komitmen pembelian yang dilaporkan China, tetapi tidak termasuk kedelai.
Pada Mei lalu, Gedung Putih menyatakan China telah menyepakati pembelian produk pertanian tersebut senilai sekitar US$17 miliar setiap tahun hingga 2028. Namun, pemerintah China hingga kini belum mengonfirmasi target pembelian tersebut. Pengecualian kedelai menjadi salah satu perhatian dalam hubungan perdagangan kedua negara. Kedelai merupakan komoditas pertanian utama yang diperdagangkan antara AS dan China, sementara China merupakan salah satu pasar terbesar bagi komoditas tersebut. Keputusan China memangkas tarif terhadap sejumlah produk pertanian, tetapi tetap mempertahankan tarif tambahan kedelai, menunjukkan bahwa pelonggaran perdagangan antara kedua negara masih berlangsung secara bertahap dan belum mencakup seluruh komoditas utama.
Baca Juga: Indeks Nikkei Jepang Melemah Tipis, Investor Hati-hati Jelang Laporan Kinerja Micron