KONTAN.CO.ID - Bank sentral China mempertahankan suku bunga acuan kredit atau loan prime rate (LPR) pada Oktober 2026. Keputusan ini memperpanjang periode suku bunga kredit yang tidak berubah selama 17 bulan berturut-turut, seiring belum mendesaknya kebutuhan pelonggaran moneter tambahan setelah ekonomi China tumbuh lebih kuat dari perkiraan pada kuartal III-2026. Mengutip
Reuters, Selasa (20/10/2026), suku bunga LPR tenor satu tahun dipertahankan di level 3%, sedangkan LPR tenor lima tahun tetap sebesar 3,5%.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Turun Selasa (20/10), Investor Menanti Keputusan Suku Bunga The Fed Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar. Dalam survei Reuters terhadap 22 pelaku pasar yang dilakukan pada Senin (19/10), seluruh responden memperkirakan kedua suku bunga tersebut tidak akan berubah. Stabilnya suku bunga kredit mengindikasikan bahwa pembuat kebijakan China belum terburu-buru meluncurkan stimulus moneter baru. Pemerintah dan bank sentral kini juga berfokus memperbaiki mekanisme penetapan suku bunga pinjaman serta meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter ke perekonomian. Ekonomi China tumbuh 4,5% secara tahunan pada kuartal III-2026, melampaui perkiraan pasar. Kinerja tersebut mengurangi urgensi bagi Beijing untuk meningkatkan dukungan ekonomi demi mencapai target pertumbuhan tahunan.
Baca Juga: AirAsia Tertekan Kenaikan Harga Avtur, Malaysia Belum Siapkan Dana Talangan Di sisi lain, Bank Rakyat China atau People's Bank of China (PBOC) tengah mempertimbangkan perubahan suku bunga kebijakan utamanya menjadi suku bunga
overnight reverse repo. Langkah ini ditujukan untuk memperbaiki transmisi kebijakan moneter dan mendukung perekonomian. Gubernur PBOC Pan Gongsheng mengatakan pada Senin bahwa bank sentral juga akan menerbitkan panduan kebijakan untuk mendorong reformasi acuan penetapan suku bunga pinjaman. Reformasi tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pada LPR sebagai satu-satunya acuan utama dan memperluas penggunaan tolok ukur suku bunga lainnya. Pan menjelaskan, sejumlah perusahaan dengan kondisi keuangan kuat dapat memilih suku bunga overnight reverse repo atau LPR sebagai acuan pinjaman berbunga mengambang. Suku bunga
overnight juga berpotensi digunakan sebagai acuan alternatif untuk penetapan harga obligasi dan derivatif keuangan.
Baca Juga: Indonesia Raih 10 Medali di Hari Pertama Asian Para Games 2026 Huatai Securities menilai kebijakan tersebut mencerminkan pergeseran bertahap dalam penggunaan suku bunga acuan, dengan fokus yang semakin besar pada penetapan harga di sisi aset. Menurut Huatai Securities, skema berjenjang yang memberikan pilihan kepada perusahaan besar, sementara usaha kecil dan mikro serta individu tetap mengacu pada LPR, bertujuan menghindari guncangan mendadak terhadap sistem penetapan harga yang sudah berjalan. Seiring semakin banyak pinjaman korporasi yang menggunakan suku bunga overnight repo sebagai acuan, rentang fluktuasi suku bunga tersebut diperkirakan menyempit. Kondisi ini berpotensi meningkatkan stabilitas likuiditas di pasar keuangan.