China Pimpin Pemborosan Energi Bersih, Ini Penyebabnya



KONTAN.CO.ID - BEIJING/SINGAPURA. China menghadapi persoalan baru dalam pengembangan energi terbarukan. Pertumbuhan pembangkit tenaga surya dan angin yang pesat tidak diimbangi dengan kapasitas jaringan listrik, sehingga sebagian besar energi bersih yang dihasilkan justru tidak dapat disalurkan ke konsumen.

Dalam enam bulan pertama 2026, China menolak atau tidak menyerap sekitar 360 terawatt-jam (TWh) listrik bersih. Jumlah tersebut setara dengan kebutuhan listrik Meksiko selama satu tahun dan melonjak 49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Data tersebut berasal dari laporan Global Energy Monitor (GEM) dan Center for Research on Energy and Clean Air (CREA) yang diterbitkan pada Agustus 2026. Estimasi kedua lembaga tersebut bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan angka yang dilaporkan pemerintah China.


Fenomena ketika listrik dari pembangkit energi terbarukan tidak dapat diserap jaringan karena kapasitas jaringan telah mencapai batas dikenal sebagai curtailment. Kondisi ini kini menjadi tantangan yang semakin besar bagi pengembangan energi terbarukan di berbagai negara.

Baca Juga: Perusahaa Kripto Trump Dikaitkan dengan Bisnis AI China melalui WorldClaw

Masalah tersebut juga menunjukkan bahwa meskipun investasi energi bersih terus meningkat, ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil belum dapat segera ditinggalkan.

Jaringan Listrik China Jadi Kendala

China merupakan produsen listrik tenaga surya terbesar di dunia. Namun, pembangunan pembangkit energi terbarukan yang sangat cepat mulai menghadapi keterbatasan infrastruktur transmisi.

Selain keterbatasan jaringan, kontrak pasokan listrik yang menjamin operasional pembangkit listrik tenaga batu bara baru turut menjadi faktor yang menyebabkan listrik dari sumber energi terbarukan harus ditolak.

Analis Wood Mackenzie Yuan Ren mengatakan persoalan curtailment di China bukan sekadar gangguan sementara.

"Curtailment di China bersifat struktural, bukan hambatan sementara. Kami memperkirakan tekanan curtailment akan terus berlanjut hingga sisa dekade ini," kata Yuan Ren.

Persoalan tersebut terjadi bersamaan dengan perubahan kebijakan energi China. Kebijakan baru yang menghapus harga tetap yang sebelumnya dijamin bagi energi terbarukan turut menekan prospek investasi pembangkit baru.

Kombinasi faktor tersebut berkontribusi terhadap penurunan pemasangan pembangkit tenaga surya baru di China sebesar 66% pada tahun ini.

Di sisi lain, pembangkitan listrik berbasis batu bara diperkirakan kembali meningkat pada 2026. Kondisi tersebut berpotensi membalikkan tren penurunan pembangkitan listrik batu bara yang terjadi dalam satu dekade terakhir.

Investasi Energi Terbarukan Ikut Terdampak

Badan Administrasi Energi Nasional China atau National Energy Administration (NEA) menyatakan 8,6% produksi listrik tenaga surya dan 9,1% produksi listrik tenaga angin mengalami curtailment pada semester pertama 2026.

Baca Juga: Dolar AS Jatuh le Level Terendah dalam Dua Bulan, Ini Penyebabnya

Namun, estimasi GEM dan CREA jauh lebih tinggi. Berdasarkan data yang telah disesuaikan dengan kondisi cuaca untuk memperhitungkan curtailment yang tidak dilaporkan, kedua lembaga tersebut memperkirakan China menolak 26,1% dari total produksi listrik tenaga angin dan surya dalam enam bulan hingga Juni 2026.

Meningkatnya curtailment juga membuat perhitungan kelayakan investasi proyek energi terbarukan menjadi lebih sulit.

Shawn Shuwei Zhang, kepala ekonom Draworld Environment Institute yang berbasis di Beijing, mengatakan meningkatnya risiko curtailment membuat investor menghadapi kesulitan dalam memperkirakan kelayakan finansial sebuah proyek.

"Curtailment membuat penilaian awal terhadap kelayakan finansial proyek menjadi lebih sulit," ujar Zhang.

Situasi tersebut mulai mengubah pola investasi di sektor energi terbarukan. Menurut Wood Mackenzie, investasi mulai bergeser dari proyek pembangkit tenaga surya yang berdiri sendiri menuju proyek yang menggabungkan pembangkit surya dengan sistem penyimpanan energi.

Sistem baterai memungkinkan kelebihan listrik disimpan ketika produksi energi surya tinggi dan digunakan kembali ketika permintaan meningkat. Dengan demikian, ketergantungan pembangkit terhadap kemampuan jaringan untuk langsung menyerap seluruh produksi listrik dapat dikurangi.

Masalah Curtailment Menyebar Secara Global

Persoalan curtailment tidak hanya terjadi di China. Sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik dan Eropa juga menghadapi masalah serupa seiring pesatnya pembangunan pembangkit energi terbarukan.

Di pasar listrik nasional Australia atau National Electricity Market (NEM), jumlah energi yang mengalami curtailment melonjak 37% menjadi 2,93 TWh pada semester pertama 2026. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 7% produksi listrik tenaga angin dan surya Australia.

Di Jepang, jaringan listrik menolak sekitar 2,35 TWh energi terbarukan pada periode yang sama. Angka tersebut meningkat 34% dan setara dengan sekitar 4% produksi energi terbarukan negara tersebut.

India juga menghadapi persoalan serupa. Sebagai negara dengan pembangkitan listrik tenaga surya terbesar ketiga di dunia, India mengalami curtailment sebesar 8,13 TWh dari energi surya pada kuartal yang berakhir Juni 2026.

Baca Juga: Trump: Iran Tidak Boleh Memiliki Senjata Nuklir!

Jumlah tersebut setara dengan sekitar 14% produksi listrik tenaga surya India dalam periode tiga bulan tersebut berdasarkan data jaringan listrik.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan curtailment energi terbarukan sebesar 0,47 TWh pada kuartal Maret yang mencakup energi surya dan angin. Namun, produksi listrik tenaga surya India memang biasanya jauh lebih tinggi pada kuartal Juni sehingga tingkat curtailment juga cenderung meningkat.

Baterai Jadi Solusi

Meningkatnya curtailment menunjukkan bahwa pembangunan pembangkit energi terbarukan harus diikuti dengan investasi pada infrastruktur jaringan dan penyimpanan energi.

Analis Ember Kostantsa Rangelova mengatakan penerapan energi terbarukan secara efisien serta peningkatan kapasitas penyimpanan baterai secara cepat dapat membantu menahan peningkatan curtailment secara global.

Menurut dia, Bulgaria dan Chile dapat menjadi contoh bagi negara lain dalam mengembangkan sistem penyimpanan energi.

"Chile menambah 4 GWh baterai pada 2025, lebih dari dua kali lipat kapasitas terpasangnya. Sebagian besar kapasitas penyimpanan baru tersebut ditempatkan bersama pembangkit tenaga surya sehingga membantu mengurangi curtailment," kata Rangelova.

TAG: