KONTAN.CO.ID - Mata uang global bergerak dinamis sepanjang Februari, dipengaruhi perubahan ekspektasi suku bunga bank sentral utama. Yuan China kehilangan momentum setelah otoritas setempat berupaya meredam reli, sementara dolar Australia (AUD) melesat dan menjadi mata uang G10 dengan kinerja terbaik tahun ini. Mengutip laporan Reuters, Jumat (27/2/2026), People's Bank of China (PBOC) mengambil langkah untuk memperlambat apresiasi yuan yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.
Baca Juga: Diskon Emas India Terdalam 10 Bulan, Permintaan China Justru Menguat Bank sentral China menyatakan akan menghapus persyaratan cadangan risiko valas untuk sebagian kontrak forward, kebijakan yang dinilai sebagai upaya mendorong pembelian dolar AS. Bersamaan dengan itu, penetapan nilai tengah (midpoint fixing) yuan yang lebih lemah dari perkiraan turut menekan mata uang tersebut. Yuan onshore turun 0,2% ke level 6,8553 per dolar AS, memutus reli 10 hari beruntun. Meski demikian, sepanjang tahun berjalan yuan masih menguat sekitar 2%, setelah terapresiasi lebih dari 4% pada 2025. Analis Maybank menilai langkah tersebut menegaskan keinginan PBOC agar laju penguatan yuan tidak terlalu cepat. Sebagian pelaku pasar juga melihat China memperoleh ruang manuver lebih besar setelah Supreme Court of the United States membatalkan tarif era Presiden Donald Trump, yang sebelumnya membebani perdagangan.
Baca Juga: Nintendo Siapkan Penjualan Saham US$ 1,9 Miliar, Bank Kyoto & MUFG Lepas Kepemilikan Dolar Australia Bersinar Di sisi lain, dolar Australia naik 0,3% ke US$0,7127 dan bersiap mencatat kenaikan bulanan lebih dari 2%. Sepanjang tahun ini, AUD telah menguat lebih dari 6%, menjadikannya mata uang G10 dengan performa terbaik. Penguatan tersebut ditopang ekspektasi bahwa Reserve Bank of Australia akan mengambil sikap lebih hawkish seiring kondisi ekonomi domestik yang solid. Pergerakan mata uang sepanjang Februari didorong terutama oleh perubahan pandangan pasar terhadap arah suku bunga global. Jika tahun lalu fokus tertuju pada besaran pemangkasan suku bunga, tahun ini perhatian bergeser pada bank sentral mana yang berpotensi memimpin siklus kenaikan suku bunga.
Baca Juga: Harga Minyak Menuju Penurunan Mingguan Jumat (27/2), AS–Iran Perpanjang Perundingan Yen Tertekan Dinamika Politik Di Jepang, Bank of Japan juga dinilai berada di jalur pengetatan kebijakan. Gubernur Kazuo Ueda telah memberi sinyal keterbukaan terhadap kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Namun yen belum banyak terbantu. Mata uang Jepang menguat tipis 0,2% ke 155,78 per dolar AS di sesi Asia, tetapi masih mencatat pelemahan mingguan dan bulanan. Penunjukan dua akademisi pendukung stimulus ekonomi ke dalam dewan BOJ oleh pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi memunculkan keraguan pasar terhadap kecepatan normalisasi kebijakan moneter.
Baca Juga: Simak Prospek Kinerja Emiten Properti Grup Aguan di Tahun 2026 Dolar AS Menguat Sementara itu, dolar AS mencatat kenaikan sekitar 0,55% sepanjang Februari. Nada yang sedikit lebih hawkish dari Federal Reserve turut menopang penguatan greenback, meski pasar masih memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini. Putusan Mahkamah Agung AS terkait tarif Trump juga dinilai memperkuat persepsi terhadap sistem checks and balances, yang pada gilirannya mendukung prospek dolar dalam jangka panjang.
Di Eropa, euro bergerak relatif stabil di US$1,1808 dan berpotensi mencatat penurunan bulanan sekitar 0,35%.
Baca Juga: Impor Rare Earth Jepang dari China Turun 5,7% pada Januari 2026 Adapun poundsterling berada di US$1,3494 dan bersiap mengakhiri tren penguatan tiga bulan beruntun setelah ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Bank of England meningkat. Secara keseluruhan, Februari menjadi bulan di mana pasar valuta asing lebih digerakkan oleh pergeseran ekspektasi suku bunga dibanding sentimen geopolitik, menandai perubahan fokus investor memasuki 2026.